HOLOPIS.COM, JAKARTA – Politisi Partai Demokrat, Andi Arief mengatakan bahwa kasus teror yang melanda Ketua BEM UGM (Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada) Yogyakarta, Tiyo Ardianto sebenarnya adalah kasus yang mudah sekali.
Apalagi ada jejak digital, termasuk pesan WhatsApp dari nomor tertentu.
“Ketua BEM UGM mengaku diteror, bahkan termasuk ibunya via chat WA. Harusnya ini soal gampang menemukan pelakunya,” kata Andi Arief dalam tweetnya di akun @Andiarief__, Sabtu (21/2/2026).
Jika Polri mau melakukan tindakan, ia yakin Kepolisian akan sangat mudah untuk melacak dan menemukan pelakunya. Sebab Polri memiliki segala macam infrastruktur untuk mengatasi persoalan semacam itu.
“Kepolisian pro aktif, karena punya alat canggih mendeteksi,” ujarnya.
Menurut Andi Arief, jika Polri diam menyikapi teror yang dialami oleh Tiyo, justru hal itu bisa merusak citra pemerintahan Presiden Prabowo Subianto saat ini.
“Selama kepolisian diam saja, ini merugikan citra pemerintah,” tuturnya.
Sebelumnya diberitakan, bahwa ketua BEM UGM Tiyo Ardianto menyampaikan pengakuannya bahwa pihaknya tengah mendapatkan serangan teror. Kejadian teror ini dialami usai Tiyo dan pengurus BEM UGM melayangkan surat ke UNICEF terkait peristiwa anak bunuh diri di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang tidak mampu membeli pena dan buku.
Tiyo mengatakan terror tersebut terjadi sejak tanggal 9 Februari lalu. Dia mengaku mendapatkan berbagai pesan dari beberapa nomor luar negeri berisi ancaman pembunuhan hingga akan membuka aib.
“Teror itu sejak Selasa, 9 Februari. Ada sekitar 6 nomor asing (dari luar negeri). Itu isinya ada ancaman penculikan, ada ancaman untuk katanya membuka aib,” kata Tiyo kepada wartawan, Jumat 20 Februari 2026.
Tak hanya itu, Tiyo juga mengaku sempat mengalami penguntitan pada Rabu (11/2). Penguntitan terhadap Tiyo dilakukan oleh orang tak dikenal saat dirinya sedang berada di sebuah kedai. Meskipun saat itu sempat dikejar, namun para penguntit itu bisa pergi.
“Ada juga pengalaman sempat dikuntit. Jadi saya sedang di sebuah kedai, dan dari jauh ada orang yang menguntit sekaligus memfoto. Tetapi ketika kami kejar, dia sudah segera pergi. Ini alarm yang menunjukkan bahwa demokrasi kita enggak baik-baik saja,” ujarnya.
Bukan hanya itu, Tiyo juga mendapati upaya untuk pembunuhan karakter dengan mengembuskan isu-isu tidak benar. Bahkan sampai ibu Tiyo pun mendapatkan pesan dari orang tidak dikenal.
Dia menilai rangkaian teror yang diterima ini adalah bentuk dari kepengecutan rezim hari ini.
“Karena bagi kami sampai hari ini rezim tidak menyampaikan pesan publik apapun yang mengatakan bahwa kebebasan akademik Anda dijamin, perlindungan dan keselamatan Anda akan difasilitasi oleh negara,” tegasnya.

