HOLOPIS.COM, JAKARTA – Tahun Baru Imlek merupakan perayaan penting dalam tradisi masyarakat Tionghoa yang menandai pergantian tahun berdasarkan penanggalan lunar. Di Indonesia, Imlek memiliki sejarah panjang yang berkaitan erat dengan perjalanan komunitas Tionghoa yang telah hadir di Nusantara sejak berabad-abad lalu.
Imlek tidak hanya dimaknai sebagai pergantian tahun, tetapi juga sebagai momen berkumpul bersama keluarga, menghormati leluhur, serta memanjatkan doa untuk keberuntungan, kesehatan, dan rezeki di tahun yang baru.
Awal Kehadiran Tradisi Imlek di Nusantara
Tradisi Imlek mulai dikenal di Indonesia seiring kedatangan para pedagang dan perantau Tionghoa sejak abad ke-7 hingga ke-15. Mereka datang melalui jalur perdagangan dan menetap di berbagai wilayah pesisir seperti Batavia, Semarang, Surabaya, dan Medan.
Di daerah-daerah tersebut, komunitas Tionghoa membangun permukiman yang kemudian dikenal sebagai kawasan Pecinan. Di sanalah perayaan Imlek dijalankan secara turun-temurun melalui sembahyang di klenteng, tradisi makan bersama keluarga, serta berbagai simbol budaya seperti lampion dan barongsai.
Pada masa kolonial Belanda, masyarakat Tionghoa tetap menjalankan tradisi Imlek, meskipun kehidupan sosial diatur dalam sistem pemisahan kelompok. Perayaan dilakukan di lingkungan komunitas dan menjadi bagian penting dalam menjaga identitas budaya mereka.
Mengalami Pembatasan pada Masa Tertentu
Setelah Indonesia merdeka, perayaan Imlek tetap berlangsung, namun mengalami pembatasan pada era Orde Baru. Ekspresi budaya Tionghoa tidak dilakukan secara terbuka di ruang publik, sehingga perayaan lebih banyak dilakukan secara terbatas di rumah atau tempat ibadah.
Meski demikian, tradisi seperti sembahyang, pertemuan keluarga, dan berbagai ritual tetap dijaga sebagai bagian dari warisan budaya yang tidak hilang.
Diakui Kembali sebagai Bagian Budaya Nasional
Perubahan terjadi pada awal tahun 2000-an ketika pemerintah mulai memberikan ruang bagi ekspresi budaya Tionghoa. Pada 2002, Tahun Baru Imlek resmi ditetapkan sebagai hari libur nasional, sehingga dapat dirayakan secara terbuka oleh masyarakat.
Sejak saat itu, Imlek berkembang menjadi perayaan yang tidak hanya dirayakan oleh komunitas Tionghoa, tetapi juga dinikmati masyarakat luas melalui festival budaya, pertunjukan barongsai, dekorasi lampion, hingga kegiatan wisata.
Kini, Imlek menjadi salah satu simbol keberagaman Indonesia yang mencerminkan perjalanan sejarah panjang interaksi budaya di Nusantara, sekaligus menunjukkan bahwa tradisi yang dahulu bersifat komunitas telah menjadi bagian dari identitas nasional.

