HOLOPIS.COM, JAKARTA – Menjaga hidrasi bukan hanya soal menghilangkan rasa haus. Dokter Spesialis Gizi Klinik, dr. Cut M.Gizi, menegaskan bahwa cairan berperan penting dalam seluruh metabolisme tubuh, terutama saat menjalani puasa.
“Hidrasi itu sangat penting sekali bukan hanya semata-mata untuk supaya menghilangkan rasa haus saja tapi untuk semua metabolisme di dalam tubuh,” ujarnya kepada Holopis.com, Kamis (12/2/2026).
Lebih dari 60% tubuh manusia terdiri dari air. Bahkan, sekitar 94% komponen dalam sirkulasi darah adalah cairan. Jika tubuh kekurangan air, dampaknya langsung terasa: lemas, sulit konsentrasi, hingga cepat mengantuk.
Tak hanya darah, organ vital seperti otak, ginjal, jantung, paru-paru, hingga mata juga sangat bergantung pada keseimbangan cairan. Otak, misalnya, membutuhkan cairan dalam jumlah besar agar daya tangkap dan fokus tetap optimal.
Menurut dr. Cut, selama puasa tubuh tetap harus bekerja optimal seperti biasa. “Puasa bukan salah satu alasan aktivitas kita tidak sempurna,” tegasnya.
Tanda awal dehidrasi sering kali diabaikan, seperti sulit fokus, kulit terasa kering, hingga rasa lelah berlebihan. Banyak orang mengira itu efek puasa semata, padahal bisa jadi tubuh kekurangan cairan.
Solusinya? Terapkan pola minum teratur seperti metode 3–2–1: minum saat berbuka, setelah tarawih, dan sebelum sahur. Dengan strategi ini, tubuh tetap terhidrasi meski waktu minum terbatas.
Strategi sederhana yang disarankan adalah membagi waktu minum menjadi tiga tahap:
- Saat berbuka puasa (rehidrasi awal)
- Setelah tarawih (mengganti cairan yang hilang)
- Sebelum sahur (persiapan puasa panjang)
Dengan pola ini, tubuh tetap seimbang dan aktivitas tetap optimal selama bulan puasa.

