HOLOPIS.COM, JAKARTA – Tunjangan Hari Raya atau THR merupakan hak pekerja yang wajib diterima jelang hari raya keagamaan. Untuk pekerja muslim, THR dicairkan jelang perayaan Idul Fitri.
Merujuk Pasal 5 Peraturan Menteri Ketenagakerjaan (Permenaker) Nomor 6 Tahun 2016, THR wajib dibayar perusahaan maksimal paling telat H-7 sebelum hari raya keagamaan.
Nah, untuk THR pekerja beragama Islam akan dicairkan jelang Lebaran Idul Fitri. Begitu pun saat Lebaran Idul Fitri 2026.
Merujuk kalender tahun ini, Hari Raya Idul Fitri diprediksi jatuh pada 21-22 Maret 2026. Dengan demikian, THR bakal cair paling lambat maksimal di kisaran 14-15 Maret 2026.
Pun, untuk THR kalangan pekerja Kristen Protestan dan Katolik jatuh pada Desember karena menyesuaikan perayaan Natal. Dengan perayaan Natal pada 25 Desember 2026, maka THR mesti dicairkan dan dibayar ke pekerja maksimal pada 18 Desember 2026.
Lalu, THR untuk pekerja Hindu jatuh saat Hari Raya Nyepi yang juga pada Maret 2026.
Berdasarkan kalender 2026, Hari Raya Nyepi jatuh pada tanggal 19 Maret 2026. Dengan demikian, THR harus dibayarkan pada 12 Maret 2026
Kemudian, THR pekerja Budha akan dicairkan perusahaan pada Mei 2026 karena menyesuaikan perayaan Waisak.
Dengan Hari Raya Waisak jatuh pada 31 Mei 2026, maka THR harus dibayarkan ke pekerja pada 23 Mei 2026
Selanjutnya, THR untuk pekerja Konghucu bakal dicairkan pada Februari 2026. Sebab, perayaan Imlek bakal jatuh pada Selasa, 17 Februari 2026.
Besaran Nominal THR
Untuk besaran THR yang diperoleh pekerja juga diatur dalam Pasal 2 ayat 1 Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 6 Tahun 2016. Dari aturan itu, pemberian THR Keagamaan untuk para pekerja tergantung durasi masa kerja.
Jika pekerja sudah memiliki minimal 12 bulan atau setahun diberikan sebesar 1 (satu) bulan upah atau gaji.
Lalu, pekerja yang kurang dari 12 bulan atau belum genap setahun, THR akan diberikan secara proporsional menyesuaikan masa kerja. Hitung-hitungannya yakni masa kerja/12 x 1 (satu) bulan upah.

