HOLOPIS.COM, JAKARTA – Menteri Perdagangan (Mendag), Budi Santoso mendorong produsen minyak goreng memperbanyak produksi minyak goreng second brand yang setara dengan kualitas brand minyak goreng milik pemerintah, yakni MinyaKita.
Langkah ini dinilai penting untuk menjaga ketersediaan pasokan dan menghindari ketergantungan pasar pada satu produk. Karena itu, Kementerian Perdagangan (Kemendag) meminta produsen kembali memperbanyak minyak goreng second brand.
“Ini yang kami minta kepada produsen, tolong membuat banyak minyak second brand,” ujar menteri yang akrab Mendag Busan dalam Media Briefing Capaian Kinerja 2026 dan Program Kerja 2026 Kementerian Perdagangan, Jumat (6/2/2026).
Sebelum program MinyaKita berjalan, jumlah merek second brand bisa mencapai sekitar 50 jenis, namun kini menyusut karena produsen beralih memproduksi MinyaKita. “Second brand itu sebenarnya merek-merek temannya MinyaKita, setingkat MinyaKita,” kata Budi.
Menurut Budi, MinyaKita merupakan bagian dari kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) yang volumenya bergantung pada kinerja ekspor.
“Kalau kita ekspor, produsen ekspor maka harus DMO berupa MinyaKita. Kalau ekspornya turun berarti DMO-nya juga turun,” ujarnya.
Sementara itu, jumlah MinyaKita yang beredar di pasar terbatas.
Kondisi tersebut, kata Budi, kerap memunculkan persepsi kelangkaan minyak goreng ketika pasokan MinyaKita menurun.
“Akhirnya sekarang ketika MinyaKita itu misalnya berkurang, seolah-olah narasinya minyak goreng langka,” katanya.
Padahal, Budi menegaskan pasokan minyak goreng di luar MinyaKita sebenarnya mencukupi. “Di luar MinyaKita sebenarnya berlipat, enggak ada masalah. Mau minyak yang premium maupun second brand,” ujar dia.
Mendag Busan berharap, peningkatan produksi second brand MinyaKita dapat memperluas pilihan masyarakat, sekaligus meredam gejolak harga minyak goreng, khususnya MinyaKita.
“Jadi kalau ke pasar jangan cuma MinyaKita. Yang lain juga banyak,” katanya.

