Java Jazz 2026: Wajah Baru, Lokasi Baru, dan Ambisi “Melampaui Horison”

28 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Siapa sangka festival jazz tertua dan terbesar di Indonesia, Jakarta International Java Jazz Festival, bakal punya “rumah baru” di edisinya yang ke-21? Tahun ini, festival legendari tersebut bersiap hijrah ke kawasan NICE (Nusantara International Convention and Exhibition) PIK 2 pada 29–31 Mei 2026.

Kabar ini disambut hangat oleh Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya. Dalam audiensinya bersama PT Java Festival Production (3/2/2026), sang Menteri memuji Java Jazz sebagai contoh Intellectual Property (IP) berbasis event yang sangat “awet muda” dan adaptif.

- Advertisement -

“Java Jazz bukan sekadar konser. Ini bukti IP lokal kita bisa relevan puluhan tahun. Kami siap dukung penuh kolaborasi ini!” tegas Riefky.

Keputusan pemindahan lokasi dari tempat penyelenggaraan sebelumnya didasarkan pada pertimbangan strategis yang mendalam. Dewi Gontha, selaku President Director Java Jazz Festival, menjelaskan bahwa faktor utama dari relokasi ini adalah untuk meningkatkan standar kenyamanan dan aksesibilitas bagi para musisi internasional.

- Advertisement -

Dengan total lebih dari 4.000 musisi mancanegara yang pernah tampil sepanjang sejarah festival, lokasi di PIK 2 dianggap sebagai “jalur hijau”. Dekat dengan bandara internasional dan dikelilingi hotel kelas atas, mobilitas musisi dunia akan jauh lebih efisien.

Tahun ini, tema yang diusung adalah “Beyond The Horizon Where Dreams Take The Stage”. Tema ini bukan sekadar slogan, melainkan representasi dari ambisi ekspansi besar-besaran, di mana kepindahan ke lokasi baru memberikan kapasitas ruang yang lebih luas untuk menampung kreativitas tanpa batas.

Selain ekspansi fisik, festival tahun ini akan memperkenalkan konsep Archipelago. Meskipun identik dengan genre Jazz, Java Jazz 2026 berkomitmen untuk mengkolaborasikan musik tradisional dari berbagai daerah di Indonesia agar dapat berpadu harmonis dengan ritme jazz dunia di atas panggung internasional.

Langkah ini juga diproyeksikan menjadi magnet kuat bagi wisatawan mancanegara. Berdasarkan data penyelenggara, sebesar 52 persen pengunjung berasal dari kawasan Asia Tenggara, diikuti oleh wisatawan dari Amerika, Eropa, hingga Afrika. Hal ini membuktikan bahwa Java Jazz telah menjadi instrumen diplomasi budaya yang sangat ampuh bagi Indonesia.

Sejak pertama kali menghentak Jakarta pada 2005, Java Jazz telah melahirkan banyak “anak” festival seperti Java Soulnation dan Java Rockin’land. Keberhasilan ini membuktikan bahwa industri pertunjukan Indonesia bukan cuma jago kandang, tapi punya nilai ekonomi tinggi di mata global.

- Advertisement -
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
28 Shares
💬 Memuat kolom komentar Facebook...
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut

Berita Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru