HOLOPIS.COM, JAKARTA – Insiden kasus bunuh diri yang dilakukaan siswa SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) jadi sorotan luas. Bocah inisial YBR itu dikabarkan tewas gantung diri di pohon cengkih dengan meninggalkan sepucuk tulisan surat.
DPR RI dari Komisi VIII DPR yang membidangi masalah sosial pun ikut menanggapi insiden tragis itu. Anggota Komisi VIII DPR, Ina Ammania menilai kasus bunuh diri siswa kelas IV SD du Ngada jadi alarm serius bagi negara.
Menurut Ina, penting negara bisa menjamin perlindungan dan pemenuhan hak pendidikan anak.
“Ini harus menjadi alarm serius bagi negara. Contoh potret yang buruk bagi dunia pendidikan, termasuk hak-haknya,” kata Ina, dalam keterangannya dikutip pada Rabu, (4/2/2026).
Ina pun prihatin dengan dugaan pemicu bocah 10 tahun itu melakukan bunuh diri karena tak bisa membeli buku dan pulpen seharga Rp10.000
Dia berpandangan insiden pilu itu mestinya tak perlu terjadi bila negara hadir memberikan perlindungan kepada anak. Kata dia, perlindungan anak penting terhadap keluarga tidak mampu.
Lebih lanjut, dia menambahkan saat ini negara juga sudah mengalokasikan anggaran pendidikan dalam jumlah besar. Angaran itu termasuk menyediakan berbagai bantuan sosial bagi masyarakat miskin melalui sejumlah kementerian.
Maka itu, ia prihatin karena kasus seperti di Ngada mestinya tak perlu terjadi.
Kemudian, ia juga menyinggung peran Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) dalam perlindungan terhadap anak-anak rentan, khususnya di daerah.
Bagi Ina, dengan insiden di Ngada, perlu dilakukan evaluasi. Ia mengatakan demikian karena ada sejumlah kasus kekerasan terhadap anak di wilayah Ngada.
Menurut dia, Kementerian PPPA bisa berperan dalam melakukan penelusuran akar persoalan. Hal itu bisa mengecek kondisi ekonomi keluarga korban. Begitupun dari sisi lingkungan social juga mesti dimonitor agar insiden serupa tak kembali terjadi.
“Di sinilah peran Kementerian PPPA dituntut, bagaimana melakukan perlindungan anak sejak dini, baik dari lingkungan keluarga maupun masyarakat,” kata dia.
Pemicu Bocah Bunuh Diri
Insiden siswa kelas IV SD di Jerebuu, Ngada, NTT, yang tewas gantung diri di pohon cengkih memantik reaksi luas. Apalagi, polisi juga mendapatkan sepucuk surat yang diduga ditulis korban YBR yang baru berusia 10 tahun itu.
Dugaan pemicu YBR nekat gantung diri karena kecewa tak bisa membeli buku tulis dan pulpen untuk keperluan sekolah.
Dari keterangan Kepala Desa Naruwolo, Dion Roa, bahwa korban YBR sempat minta uang kepada sang ibu untuk beli buku tulis dan pulpen. Tapi, saat itu, sang ibu tak bisa memenuhu permintaan YBR karena kesuitan ekonomi.
Menurut Dion, YBR lebih sering tinggal bersama neneknya. Ia menyebut rumah nenek dan ibunya hanya berbeda desa. Pun, saat malam insiden tragis itu, YBR sengaja pulang ke rumah ibunya karena mau minta uang untuk beli pulpen dan buku tulis.
“Menurut pengakuan ibunya permintaan itu korban minta uang (buat beli buku tulis dan pulpen) sebelum meninggal,” kata Dion Roa, Selasa, (3/2/2026).
Dion menceritakan kehidupan ibu korban juga sulit karena merupakan orangtua tunggal yang mesti menanggung kebutuhan lima orang anaknya termasuk korban YBR. Ibu korban yang hanya bekerja serabutan diketahui sudah lama berpisah dari suaminya.

