HOLOPIS.COM, BALI – Keindahan bawah laut Indonesia yang tersohor hingga mancanegara kini menghadapi ancaman nyata dari polusi dan limbah. Menanggapi krisis ini, Valerine Chandrakesuma, CEO Wedoo, menegaskan bahwa menjaga keberlanjutan ekosistem bahari bukan lagi sebuah pilihan dekoratif, melainkan keharusan ekonomi yang mendesak.
Menurut Valerine, kesehatan laut adalah “nadi” utama bagi industri pariwisata. Tanpa laut yang bersih, daya saing Indonesia di pasar global akan runtuh.
“Wisatawan memiliki banyak pilihan destinasi di dunia. Jika terumbu karang rusak dan ikan bermigrasi karena air yang tercemar, pesona menyelam dan berselancar kita akan hilang. Koral dan laut kita adalah salah satu yang terindah di dunia. Menjaganya adalah keharusan untuk masa depan,” ujar Valerine dalam keterangannya.
Salah satu tantangan terbesar dalam pengelolaan sampah di destinasi wisata bahari seperti Raja Ampat atau Labuan Bajo adalah kendala logistik. Biaya mengangkut sampah dari pulau terpencil ke daratan utama seringkali lebih mahal daripada nilai sampah itu sendiri.
Menjawab tantangan tersebut, Wedoo menghadirkan solusi teknologi berupa mesin pengelolaan sampah inovatif. Mesin ini diklaim mampu mereduksi volume sampah hingga 95 persen.
“Dengan volume yang mengecil, sampah bukan lagi beban operasional yang mahal, melainkan aset bernilai ekonomi yang bisa diolah kembali,” jelas Valerine.
Inovasi ini bekerja dengan cara memproses limbah langsung di sumbernya (on-site), mengubah tumpukan sampah yang masif menjadi material yang ringkas dan mudah dimobilisasi. Hal ini memungkinkan daerah-daerah terpencil untuk mengelola limbah mereka secara mandiri tanpa harus bergantung sepenuhnya pada rantai logistik darat yang kompleks.
Visi Wedoo tidak berhenti pada pemusnahan sampah, tetapi pada penciptaan nilai tambah. Dengan teknologi reduksi ini, material sisa hasil olahan dapat dikonversi menjadi produk baru yang memiliki nilai jual, mendukung konsep ekonomi sirkular yang tengah digalakkan pemerintah.
Namun, Valerine menekankan bahwa teknologi saja tidak cukup. Dibutuhkan sinergi antara inovasi sektor swasta dengan ketegasan payung hukum.
“Harapan kami, pemerintah memperketat dan menegakkan regulasi dengan baik, sehingga tempat yang indah ini tetap terjaga hingga ribuan tahun ke depan,” pungkasnya.
Berdasarkan data kementerian terkait, sektor pariwisata bahari menyumbang porsi signifikan terhadap devisa negara. Kerusakan pada ekosistem laut tidak hanya berdampak pada hilangnya biodiversitas, tetapi juga berisiko menghilangkan lapangan kerja bagi jutaan masyarakat pesisir yang menggantungkan hidup pada sektor hospitality dan perikanan.
Hadirnya teknologi seperti yang ditawarkan Wedoo diharapkan menjadi titik balik bagi pengelolaan sampah di Indonesia, memastikan bahwa “jantung” pariwisata kita tetap berdetak kencang untuk generasi mendatang.

