HOLOPIS.COM, MAROS – Hembusan angin puting beliung yang datang tiba-tiba membuat warga Desa Moncongloe, Kecamatan Moncongloe, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan pada hari Minggu 1 Februari 2026 panik.
Penyebabnya karena puting beliung merusak atap rumah warga. Bahkan sebagian seng beterbangan, sementara warga hanya bisa bertahan dan melihat rumah mereka rusak parah.
Sedikitnya 10 rumah dilaporkan mengalami kerusakan dengan tingkat bervariasi. Sebaran dampak tercatat di Dusun Panaikang, Dusun Pamanjengan, serta kawasan Perumahan Findaria Mas 2.
Wilayah perumahan menjadi titik terdampak paling banyak, disusul dusun-dusun di sekitarnya. Peristiwa tersebut juga menyebabkan satu warga mengalami luka.
Korban merupakan seorang anak dari Dusun Panaikang yang terkena dampak saat puting beliung melanda. Saat ini korban telah mendapatkan penanganan medis di Puskesmas setempat.
Saat kejadian berlangsung, para penghuni rumah diketahui berada di dalam rumah masing-masing. Sebagian besar warga memilih tetap bertahan di rumah.
Seorang warga menyebutkan, saat ini korban masih mengandalkan penanganan seadanya sambil menunggu bantuan, terutama berupa terpal untuk menutup bagian atap rumah yang bolong.
“Kami masih bertahan karena banyak barang dalam rumah takutnya kalau kami mengungsi barang justru akan hilang,” jelas Suci kepada Holopis.com, Minggu (1/2) malam.
Dia menambahkan, kejadian itu telah disampaikan ke pemerintah Kabupaten Maros, namun hingga kini belum ada tim yang turun langsung ke lokasi untuk melakukan peninjauan.
“Kami berharap ada perhatian dari pemerintah untuk memperbaiki rumah kami yang rusak,” harap Suci.
Di sisi lain, kondisi cuaca ekstrem di wilayah Maros diperkirakan masih akan berlangsung. Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih berpeluang terjadi dan dapat disertai kilat serta angin kencang di sejumlah kecamatan.
Curah hujan di wilayah ini diperkirakan relatif merata, dengan sebagian besar kecamatan berada pada kategori tinggi.
Akumulasi curah hujan bulanan bahkan berpotensi melampaui 300 milimeter. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh masih aktifnya monsun Asia dan tingginya potensi pembentukan awan hujan.
Selain hujan lebat, angin dengan kecepatan cukup signifikan juga masih berpeluang terjadi. Pada kondisi tertentu, hembusan angin dapat melebihi kecepatan normal dan memicu kerusakan.
Masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana hidrometeorologi, termasuk banjir, longsor, dan angin kencang.

