HOLOPIS.COM, JAKARTA – Masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat tidak hanya dikenal karena kekayaan budaya dan adatnya, tetapi juga oleh sejumlah cerita makhluk gaib yang telah berkembang turun-temurun.
Kepercayaan terhadap makhluk halus tersebut bukan sekadar cerita horor semata, tetapi juga sering menjadi bagian dari warisan tradisi dan moral masyarakat setempat. Berikut ulasan mengenai empat hantu paling dikenal dan dianggap menyeramkan di wilayah Minangkabau menurut cerita yang beredar.
1. Siampa
Siampa adalah salah satu hantu yang paling sering dibicarakan dalam cerita mistis Minangkabau. Sosok ini digambarkan memiliki badan tinggi besar berwarna hitam, serta mata merah menyala yang dianggap sangat menakutkan. Cerita yang berkembang menyebutkan bahwa makhluk ini sering muncul di bangunan tua atau di bawah pepohonan besar.
Kepercayaan masyarakat setempat menyatakan bahwa Siampa mampu mengganggu manusia, terutama ketika seseorang tertidur. Kejadian yang sering dikaitkan dengan keberadaannya adalah sensasi tercekik atau tertindih saat tidur, sehingga korban merasa tidak dapat bernapas atau bergerak.
Cerita-cerita seperti ini sering dihubungkan dengan fenomena “tidur berhantu” yang juga dikenal di berbagai budaya Asia.
2. Inyiak (Harimau Gaib)
Inyiak dalam budaya Minangkabau berarti orang yang dituakan atau kakek dalam keluarga. Namun, dalam versi cerita mistis, istilah ini juga dihubungkan dengan penguasaan ilmu gaib yang kuat.
Versi mistis dari Inyiak adalah sosok harimau jelmaan yang diyakini sebagai bentuk gaib dari ilmu putih yang diwariskan dalam keluarga tertentu. Di beberapa daerah, masyarakat percaya harimau ini dapat muncul untuk melindungi keturunan keluarga yang memiliki darah Inyiak, meskipun sering juga dipahami sebagai makhluk dengan kemampuan supranatural yang misterius.
3. Palasik Kuduang
Palasik Kuduang merupakan makhluk gaib yang dikenal sebagai wujud ilmu hitam tingkat tinggi yang bisa diturunkan hanya dalam beberapa generasi keluarga tertentu. Sosok ini digambarkan sebagai kepala yang terpisah dari tubuhnya, sering disebut “kuduang” yang berarti terputus.
Dalam pelbagai versi cerita, Palasik ini dikatakan memakan ubun-ubun bayi sebagai tumbal, sehingga dianggap makhluk yang sangat berbahaya.
Untuk menangkal Palasik, masyarakat tradisional Minangkabau memiliki berbagai jimat pelindung yang terbuat dari bahan-bahan tertentu seperti cengkeh, kunyit, lada, sirih, bawang putih, dan pala yang dikenakan pada bayi.
4. Antu Lapiak
Antu Lapiak adalah sosok hantu yang kurang dikenal di luar cerita lokal Minangkabau. Secara harfiah, antu berarti hantu dan lapiak merujuk pada tikar. Menurut legenda, makhluk ini tampak seperti sebuah tikar yang tergulung dan sering mendiami area di sekitar sungai atau danau.
Cerita masyarakat menyebutkan bahwa Antu Lapiak akan mencari korban di perairan tersebut dan menenggelamkan korban yang dekat dengan sungai atau danau. Kepercayaan ini menjadikan lokasi-lokasi tertentu di Minangkabau diselimuti kehati-hatian, terutama saat menjelang malam.
Pemahaman Sosial dan Budaya
Cerita-cerita tentang makhluk gaib seperti Siampa, Inyiak, Palasik Kuduang, dan Antu Lapiak dipandang bukan hanya sebagai legenda horor semata, tetapi juga sebagai bagian dari ajaran budaya dan moral dalam masyarakat Minangkabau.
Banyak dari kisah tersebut digunakan untuk mengajarkan nilai kehati-hatian, ketaatan terhadap norma, dan rasa hormat terhadap lingkungan serta keluarga.
Meskipun kepercayaan terhadap hantu tidak dapat dibuktikan secara ilmiah, cerita-cerita ini tetap hidup dalam tradisi lisan dan menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Minangkabau hingga saat ini.

