HOLOPIS.COM, JAKARTA – Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni dan Perdana Menteri Norwegia Jonas Gahr Støre melontarkan kritik terhadap pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut pasukan NATO non-AS tidak berada di garis depan selama perang di Afghanistan.
Dalam pernyataan resmi pada Sabtu (24/1), Meloni mengingatkan bahwa setelah serangan teroris 11 September 2001, NATO untuk pertama kalinya dan satu-satunya dalam sejarah mengaktifkan Pasal 5 sebagai bentuk solidaritas terhadap Amerika Serikat.
“Italia segera merespons bersama para sekutunya, mengerahkan ribuan personel militer dan mengemban tanggung jawab penuh atas Komando Regional Barat, salah satu area operasional terpenting dari seluruh misi internasional tersebut,” demikian pernyataan Meloni.
Meloni menegaskan bahwa Italia telah membayar harga yang sangat besar dalam misi Afghanistan. Selama hampir dua dekade keterlibatan, sebanyak 53 tentara Italia gugur dan lebih dari 700 lainnya mengalami luka-luka dalam operasi tempur, misi keamanan, serta program pelatihan bagi pasukan Afghanistan.
Karena itu, Meloni menilai pernyataan yang meremehkan kontribusi negara-negara NATO di Afghanistan tidak dapat diterima, terlebih jika disampaikan oleh sesama negara sekutu.
Kritik serupa juga disampaikan Perdana Menteri Norwegia Jonas Gahr Støre. Ia menyebut pernyataan Trump sebagai sikap yang tidak menghargai pengorbanan para prajurit dan keluarga mereka.
“Prajurit yang gugur, keluarga yang ditinggalkan, dan mereka yang bertugas di Afghanistan layak diperlakukan dengan jujur dan hormat,” tulis Støre dalam pernyataan yang diunggah di Facebook.
“Pernyataan yang diutarakan presiden AS itu tidak menghargai. Saya memahami veteran maupun kerabat mereka bereaksi keras terhadap hal ini,” lanjutnya.
Sebelumnya, Trump dalam wawancara dengan Fox Business pada Kamis (22/1) mengatakan bahwa Amerika Serikat tidak pernah membutuhkan pasukan non-AS dalam perang di Afghanistan. Ia menyebut pasukan NATO lainnya hanya berada di belakang, agak jauh dari garis depan.

