HOLOPIS.COM, JAKARTA – Pernah merasa minder saat scrolling media sosial karena melihat teman sebaya pamer tas desainer atau liburan fancy? Jangan langsung percaya! Faktanya, banyak dari mereka yang cuma “akting” sukses demi konten dan validasi di dunia kencan.
Dikutip Holopis.com dari Study Finds, Senin (26/1/2026) survei terbaru dari Credit One Bank mengungkap realita pahit di balik gaya hidup mewah anak muda zaman sekarang. Ternyata, satu dari dua orang Gen Z dan milenial mengaku pernah berbohong soal kondisi keuangan mereka demi menjaga image.
Fenomena “Fake It ‘Till You Make It”
Bagi banyak anak muda, gengsi adalah segalanya. Berdasarkan survei terhadap 1.000 orang dewasa muda, sebanyak 51% responden mengaku melebih-lebihkan kesuksesan finansial mereka. Gen Z menjadi kelompok yang paling sering “palsu”, dengan angka mencapai 54%, sedikit lebih tinggi dibanding milenial di angka 48%.
Yang lebih mengkhawatirkan, demi membuat gebetan terkesan saat dating, 37% responden rela membiarkan saldo bank mereka menjadi minus atau sengaja menumpuk utang, istilahnya Gaya elit, ekonomi sulit.
Skor Kredit jadi “Green Flag” Baru dalam Hubungan?
Menariknya, di tahun 2026 ini, paras cantik atau tampan saja tidak cukup. Skor kredit yang tinggi kini menjadi standar baru dalam menentukan apakah seseorang layak dipacari atau tidak.
Daya tarik seseorang kini tidak lagi hanya dinilai dari penampilan, tetapi juga dari kondisi finansialnya atau yang disebut sebagai financial attractiveness.
Lebih dari separuh responden menganggap bahwa skor kredit yang bagus secara otomatis membuat seseorang terlihat jauh lebih menarik secara romantis. Standar ini bahkan sangat kaku bagi sebagian orang, di mana sebanyak 24% anak muda secara tegas menyatakan tidak akan mau menjalani hubungan serius jika pasangannya memiliki skor kredit di bawah 700.
Fenomena ini memicu ide unik agar aplikasi kencan mulai menampilkan skor kredit secara otomatis pada profil pengguna, sehingga kesehatan finansial bisa dipantau sejak awal layaknya informasi tinggi badan atau hobi.
Pria Lebih Terbebani Gengsi
Survei ini juga menyoroti adanya kesenjangan gender dalam hal risiko finansial demi cinta. Sebanyak 46% pria mengaku rela menguras tabungan atau berutang demi kencan yang berkesan, jauh lebih tinggi dibandingkan wanita yang hanya 28%.
Ekspektasi tradisional bahwa “pria harus membayar tagihan” (footing the bill) ternyata masih memberikan tekanan finansial yang besar, meskipun peran gender di bidang lain sudah mulai bergeser.
Gengsi vs Realita: Beban Mental yang Nyata
Mengapa fenomena ini terjadi? Media sosial menjadi faktor utama. Paparan konten gaya hidup mewah yang konstan menciptakan tekanan bagi Gen Z untuk terus “mengimbangi” standar tersebut, meskipun rekening bank mereka berkata sebaliknya.
Meski begitu, tidak semua berita buruk. Sebanyak 48% responden mengaku tetap bersedia menikahi seseorang dengan masa lalu finansial yang kurang baik, asalkan mereka aktif berusaha memperbaikinya. Ini menunjukkan bahwa kejujuran dan usaha (process) masih dihargai di atas sekadar angka di saldo ATM.

