HOLOPIS.COM, JAKARTA – Pemerintah Iran menuding adanya keterlibatan setidaknya 10 badan intelijen asing sebagai biang kerok insiden teror di negara mereka.
Korps Garda Revolusi Islam Iran atau biasa disebut IRGC pada Jumat (23/1) dalam pernyataan resminya menyebut insiden tersebut sebagai bagian dari rencana Amerika Serikat (AS)-Israel yang gagal untuk mengancam integritas teritorial dan nasional Iran.
Pernyataan itu menyebutkan sebuah ruang komando asing didirikan setelah konflik selama 12 hari pada Juni untuk menciptakan kekacauan internal, memprovokasi intervensi militer, dan memobilisasi kelompok-kelompok yang dianggap sebagai ancaman, tanpa memberikan bukti.
IRGC mengatakan pihaknya telah menggagalkan rencana-rencana tersebut dari Juni hingga akhir Desember. Langkah tersebut mulai dari menahan 735 orang yang terkait dengan jaringan antikeamanan, membina 11.000 individu rentan, dan menyita 743 senjata ilegal.
Sementara itu, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyebut kerusuhan itu sebagai kudeta semu yang didukung oleh AS dan Israel.
Dia menyampaikan pernyataan tersebut dalam percakapan via telepon dengan Ketua Parlemen Turkiye Numan Kurtulmus pada Kamis (22/1). Dalam kesempatan itu, dia juga berterima kasih kepada Turkiye atas kebijakan nonintervensinya dalam urusan dalam negeri Iran.
Aksi unjuk rasa meletus di seluruh Iran pada bulan lalu karena masalah ekonomi sebelum kemudian berkembang menjadi isu politik dan berujung kekerasan.
Kondisi itu menyebabkan korban jiwa dan kerusakan luas pada properti publik, masjid, gedung pemerintah, dan bank. Otoritas Iran menyalahkan AS dan Israel karena menghasut kerusuhan tersebut.

