HOLOPIS.COM, SUMEDANG – Di balik rimbunnya pepohonan dan udara sejuk dataran tinggi Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, tersimpan sebuah situs yang menyatukan dua sejarah besar Nusantara.
Kompleks Makam Gunung Puyuh bukan sekadar pemakaman bangsawan, melainkan simbol harmoni dan penghormatan terakhir bagi pahlawan nasional asal Aceh, Cut Nyak Dien.
Destinasi ini kian populer bagi wisatawan yang mencari kedalaman sejarah sekaligus ketenangan spiritual. Berikut adalah ulasan mengapa Makam Gunung Puyuh menjadi destinasi wisata religi yang unik dan wajib dikunjungi.
Keunikan utama situs ini adalah keberadaan makam Cut Nyak Dien, sang “Ibu Perbu” (Ibu Suci) bagi masyarakat Sumedang. Setelah ditawan Belanda dan diasingkan dari tanah kelahirannya di Aceh ke Batavia, beliau akhirnya menghabiskan sisa hidupnya di Sumedang.
Menariknya, saat tiba di pengasingan, Cut Nyak Dien yang hanya fasih berbahasa Aceh dan Arab dirawat dengan penuh hormat oleh Ki Haji Sanusi, seorang ulama besar Sumedang.
Hubungan emosional antara pejuang Aceh dan ulama Sunda ini menciptakan narasi sejarah yang kuat tentang persaudaraan antar-suku di masa penjajahan.
Selain menjadi peristirahatan sang pahlawan, Gunung Puyuh merupakan kompleks pemakaman bagi para bupati Sumedang terdahulu. Di sini bersemayam Pangeran Sugih beserta keturunannya.
Arsitektur makam dan penataannya mencerminkan tata krama serta kemegahan aristokrasi Sunda masa lampau, memberikan kesan magis dan berwibawa bagi setiap pengunjung.
Bagi para pelancong, mengunjungi Gunung Puyuh bukan sekadar berziarah. Banyak instansi dan komunitas sering mengadakan lawatan ke sini sebagai bentuk refleksi nilai-nilai perjuangan.
Kisah Cut Nyak Dien yang memimpin gerilya selama puluhan tahun hingga akhirnya beristirahat di tanah Jawa menjadi inspirasi tentang keteguhan prinsip dan pengabdian tanpa batas.
Makam Gunung Puyuh bukan hanya sekadar monumen batu, melainkan pengingat bahwa di tanah Sumedang, seorang Ratu Aceh pernah menemukan rumah dan kedamaian di akhir hayatnya. Sebuah destinasi yang memadukan wisata sejarah, religi, dan kekayaan budaya dalam satu lingkup yang teduh.

