HOLOPIS.COM, JAKARTA – Kesehatan reproduksi pria sering kali kurang mendapat perhatian, padahal perannya sangat penting dalam kualitas hidup dan kesuburan. Banyak pria bahkan baru menyadari adanya gangguan setelah muncul keluhan seperti nyeri, pembengkakan, atau gangguan fungsi seksual. Padahal, beberapa penyakit reproduksi pria bisa dicegah atau ditangani lebih awal jika dikenali sejak dini.
Penyakit pada sistem reproduksi pria dapat menyerang berbagai organ, mulai dari testis, epididimis, prostat, hingga penis. Kondisi ini bisa disebabkan oleh infeksi, peradangan, gangguan hormon, hingga kebiasaan hidup yang kurang sehat.
Oleh karena itu, mengenali penyakit reproduksi pada pria dapat menjadi solusi pencegahan yang dapat diatasi. Berikut ini beberapa penyakit reproduksi pria yang perlu diwaspadai, dikutip Holopis dari Alodokter Kementerian Kesehatan RI.
1. Varikokel
Varikokel merupakan pembengkakan pembuluh darah vena di dalam skrotum. Kondisi ini sering disamakan dengan varises, tetapi terjadi di area testis. Varikokel umumnya tidak menimbulkan rasa sakit yang hebat, namun dapat menyebabkan rasa tidak nyaman, testis terasa berat, atau nyeri yang muncul setelah berdiri lama.
Penyakit ini juga kerap dikaitkan dengan gangguan kesuburan karena dapat memengaruhi kualitas dan jumlah sperma. Jika menimbulkan keluhan atau berdampak pada kesuburan, varikokel perlu ditangani dengan pengobatan atau tindakan medis tertentu.
2. Epididimitis
Epididimitis adalah peradangan pada epididimis, yaitu saluran di belakang testis yang berfungsi menyimpan dan mengalirkan sperma. Kondisi ini biasanya disebabkan oleh infeksi bakteri, termasuk infeksi menular seksual.
Gejala yang sering muncul antara lain nyeri pada testis, pembengkakan, kemerahan pada skrotum, serta demam. Jika tidak segera ditangani, epididimitis dapat menyebabkan komplikasi serius, termasuk gangguan kesuburan.
3. Orkitis
Orkitis merupakan peradangan pada testis yang dapat terjadi akibat infeksi virus atau bakteri. Salah satu penyebab yang cukup dikenal adalah komplikasi infeksi virus gondongan. Penyakit ini dapat menyerang satu atau kedua testis.
Gejalanya meliputi nyeri hebat pada testis, pembengkakan, demam, dan rasa tidak nyaman saat beraktivitas. Pada beberapa kasus, orkitis dapat menyebabkan penurunan fungsi testis jika tidak ditangani dengan baik.
4. Prostatitis
Prostatitis adalah peradangan pada kelenjar prostat yang dapat terjadi secara akut maupun kronis. Penyakit ini sering dialami pria usia dewasa dan dapat disebabkan oleh infeksi bakteri atau faktor lain yang belum sepenuhnya diketahui.
Keluhan yang umum dirasakan meliputi nyeri saat buang air kecil, nyeri di area panggul, sulit menahan kencing, serta gangguan ejakulasi. Prostatitis dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan perlu penanganan medis yang tepat.
5. Pembesaran Prostat Jinak (BPH)
Pembesaran prostat jinak atau benign prostatic hyperplasia (BPH) merupakan kondisi umum pada pria usia lanjut. Pembesaran ini bukan kanker, namun dapat menekan saluran kemih dan menyebabkan gangguan buang air kecil.
Gejala BPH antara lain sering buang air kecil, terutama di malam hari, aliran urine melemah, dan rasa tidak tuntas setelah buang air kecil. Meski tergolong jinak, kondisi ini tetap perlu dipantau agar tidak menimbulkan komplikasi.
6. Kanker Prostat
Kanker prostat adalah salah satu jenis kanker yang paling sering menyerang pria, terutama di usia lanjut. Pada tahap awal, kanker prostat sering kali tidak menimbulkan gejala yang jelas, sehingga pemeriksaan rutin sangat dianjurkan.
Jika sudah berkembang, gejalanya bisa berupa nyeri saat buang air kecil, darah dalam urine atau sperma, serta nyeri tulang. Deteksi dini sangat berperan dalam meningkatkan keberhasilan pengobatan kanker prostat.
7. Kanker Testis
Kanker testis umumnya menyerang pria usia muda hingga dewasa awal. Penyakit ini ditandai dengan munculnya benjolan atau pembesaran pada testis yang biasanya tidak menimbulkan rasa sakit.
Meskipun tergolong langka, kanker testis memiliki tingkat kesembuhan yang tinggi jika terdeteksi sejak dini. Oleh karena itu, pria disarankan untuk rutin memeriksa kondisi testis secara mandiri.
Demikian daftar penyakit reproduksi pada pria yang wajib diketahui. Menjaga kesehatan reproduksi pria tidak kalah penting dari menjaga kesehatan organ lainnya. Mengenali tanda dan gejala penyakit sejak dini, menerapkan pola hidup sehat, serta tidak ragu memeriksakan diri ke dokter dapat membantu mencegah komplikasi serius.


