‘Rodgers & Hammerstein’s Cinderella’ Pukau Penonton di TIM


Oleh : Dede Suhadi

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Di bawah temaram lampu panggung Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), sebuah keajaiban sedang ditenun. Bukan oleh peri, melainkan oleh tangan-tangan kreatif anak bangsa.

Pada 15 hingga 18 Januari 2026, panggung legendaris itu melepaskan identitas aslinya dan bertransformasi menjadi semesta megah lewat pementasan teater musikal ‘Rodgers & Hammerstein’s Cinderella’.

Pertunjukan persembahan Center Stage Community (Censtacom) ini bukanlah sekadar hiburan pelepas penat. Acara ini adalah sebuah monumen kegigihan yang dibangun selama sembilan bulan. Sebuah pembuktian bahwa dari ketulusan komunitas lokal, bisa lahir standar pertunjukan yang mampu bersaing di kancah global.

Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, tak kuasa menyembunyikan binar kekaguman di matanya. Baginya, pementasan ini adalah jendela masa depan bagi industri kreatif Indonesia.

"Saya menonton dengan hati dan menangkap gairah luar biasa dari setiap gerak para pejuang teater ini. Ini bukan sekadar pertunjukan, melainkan sinyal kuat bahwa narasi 'Indonesia Emas 2045' sedang dirajut dengan nyata oleh tangan-tangan berbakat ini," ungkap Irene Umar dengan nada penuh haru.

Di bawah tongkat kepemimpinan sutradara Josephine Angelica, dongeng klasik ini tak lagi sekadar cerita pengantar tidur. Ia terlahir kembali dengan nafas modern yang relevan namun tetap menjaga kesakralan nilai kebaikannya.

Penonton seolah dipindahkan ke dunia lain saat harmoni ‘In My Own Little Corner’, ‘Ten Minutes Ago’, hingga ‘Do I Love You Because You’re Beautiful?’ menggema, dipadukan dengan koreografi yang bicara lebih kuat dari sekadar kata-kata.

Executive Producer Bobby Wijaya menyebutkan bahwa Cinderella adalah pengingat bagi siapa saja yang hampir menyerah pada mimpinya. "Kami menghidupkan kembali cerita ini untuk membisikkan bahwa keteguhan hati bisa mengubah hal mustahil menjadi nyata. Sihir ini milik semua usia," tuturnya.

Keelokan yang tersaji di depan layar sebenarnya berakar dari sebuah ekosistem yang unik di balik layar. Censtacom berdiri kokoh sebagai komunitas nirlaba yang digerakkan sepenuhnya oleh semangat para relawan. Mereka adalah individu-individu yang menginvestasikan waktu dan energi bukan demi angka, melainkan demi rasa cinta pada seni pertunjukan.

Perjalanan menuju panggung utama pun melalui proses kurasi yang ketat. Mulai dari audisi terbuka hingga inkubasi kreatif selama hampir satu tahun. Sejak 2019, kolektif ini telah mengukir jejak melalui 20 pementasan, termasuk membawa spirit Broadway lewat Little Women dan Sister Act ke tanah air.

Tak hanya pengalaman di dalam auditorium, pengunjung juga diajak merayakan kreativitas di area luar. Dari deretan kuliner UMKM terpilih hingga merchandise eksklusif, setiap sudut dirancang untuk merayakan momen 'magis' yang tak terlupakan.

Tampilan Utama