Biaya pengeboran di wilayah seperti itu dinilai sangat mahal dan kerap tidak sebanding dengan manfaat energi listrik yang dihasilkan.
Kurtubi menilai kondisi tersebut berpotensi memperpanjang polemik di masyarakat. Di kawasan seperti Gunung Gede, proyek geothermal bukan hanya soal pasokan energi, tetapi juga menyangkut keberlanjutan ekosistem hutan, sumber air, serta ruang hidup satwa liar.
Kekhawatiran inilah yang kerap mendorong penolakan dari komunitas pendaki dan pecinta alam yang melihat gunung sebagai kawasan konservasi, bukan semata objek eksploitasi energi.
Ia menambahkan, pemanfaatan geothermal seharusnya lebih selektif dan kontekstual. Jika cadangan panas bumi berada di kedalaman dangkal dan volumenya besar, menurut Kurtubi, pendekatan pengembangannya tidak harus selalu berupa pembangkit listrik.
“Kalau cadangannya besar dan dangkal, tidak terlalu dalam sehingga tidak membutuhkan biaya pengeboran mahal, opsi pemanfaatannya justru lebih tepat sebagai sumber air hangat,” ujarnya.
Pemanfaatan tersebut, lanjutnya, dapat diarahkan menjadi kolam air hangat berskala besar yang memiliki nilai ekonomi dan sosial lebih luas.
Kurtubi mencontohkan sebuah negara pulau di Samudra Atlantik yang berhasil mengembangkan kolam air hangat dari sumber geothermal sebagai objek wisata unggulan. Proyek tersebut mendapat dukungan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan menjadi magnet wisatawan internasional.
“Banyak turis dari negara-negara Eropa dan juga dari China datang ke sana,” kata Kurtubi.
Ia mengaku pernah mengunjungi langsung objek wisata tersebut saat masih menjadi anggota DPR RI bersama Komisi VII. Pengalaman itu, menurutnya, menunjukkan bahwa geothermal tidak selalu harus ditempatkan dalam kerangka industri energi semata.
Kurtubi menilai konsep wisata kolam air hangat berbasis geothermal dapat menjadi alternatif yang lebih ramah lingkungan jika karakter cadangan memungkinkan. Selain mengurangi risiko ekologis, pendekatan ini juga berpotensi menciptakan lapangan kerja baru dan menjadi sumber pendapatan daerah.
Di tengah polemik geothermal di Gunung Gede, pandangan ini memperlihatkan bahwa perdebatan panas bumi sejatinya bukan tentang menolak energi bersih, melainkan soal memilih model pemanfaatan yang paling tepat dan adil bagi lingkungan serta masyarakat.


