Mengenal Geothermal: Energi Panas Bumi dan Dampaknya


Oleh : Fisca Dwi Astuti

HOLOPIS.COM, JAKARTA - Geothermal atau panas bumi kerap disebut sebagai salah satu sumber energi terbersih yang dimiliki Indonesia. Berada di jalur cincin api dunia, Indonesia menyimpan potensi panas bumi besar yang berasal dari aktivitas vulkanik di bawah permukaan tanah.

Energi ini dihasilkan dari uap atau air panas yang dimanfaatkan untuk memutar turbin pembangkit listrik.

Dalam praktiknya, geothermal diposisikan sebagai energi terbarukan yang mampu beroperasi stabil selama 24 jam. Berbeda dengan tenaga surya dan angin yang bergantung cuaca, panas bumi menawarkan pasokan listrik berkelanjutan.

Inilah alasan geothermal kerap masuk dalam peta jalan transisi energi nasional menuju pengurangan emisi karbon.

Namun di balik statusnya sebagai energi bersih, pemanfaatan geothermal juga memicu perdebatan.

Geothermal ramah iklim, tetapi tidak selalu bebas dampak lingkungan, terutama jika pengembangannya dilakukan di kawasan sensitif seperti pegunungan, hutan lindung, atau dekat sumber air.

Ilustrasi Geothermal di Gunung Gede. [Foto: Ai]

Apa Itu Geothermal dan Bagaimana Cara Kerjanya

Geothermal berasal dari panas alami di dalam bumi yang tersimpan dalam reservoir air panas dan uap. Melalui proses pengeboran, uap tersebut dialirkan ke permukaan untuk menggerakkan turbin pembangkit listrik.

Setelah digunakan, fluida biasanya dikembalikan ke dalam tanah untuk menjaga keseimbangan tekanan bawah tanah.

Sisi Positif Geothermal bagi Lingkungan

Sebagai energi terbarukan, geothermal menghasilkan emisi karbon jauh lebih rendah dibandingkan batu bara atau minyak bumi.

Pembangkit panas bumi juga tidak memerlukan area seluas pembangkit tenaga surya atau bendungan besar, sehingga secara teori lebih hemat ruang. Selain itu, geothermal dapat menjadi sumber energi dasar atau base load yang menopang stabilitas jaringan listrik nasional.

Dampak Negatif yang Perlu Diantisipasi

Di sisi lain, pengembangan geothermal berpotensi menimbulkan gangguan lingkungan jika tidak dikelola dengan ketat. Proses pengeboran berisiko memengaruhi struktur tanah, memicu gempa mikro, serta mengganggu sistem hidrologi seperti mata air dan sungai.

Di kawasan hutan atau gunung, pembangunan akses jalan dan fasilitas juga dapat membuka celah deforestasi.

Di Tengah Kebutuhan Energi dan Perlindungan Alam

Polemik geothermal pada akhirnya berangkat dari tarik-menarik antara kebutuhan energi bersih dan kewajiban menjaga ekosistem.

Transparansi, kajian lingkungan yang mendalam, serta penentuan lokasi yang tepat menjadi kunci agar panas bumi benar-benar menjadi solusi berkelanjutan, bukan sumber persoalan baru bagi lingkungan dan masyarakat sekitar.

Tampilan Utama