Deretan Negara yang Dinilai Relatif Aman Jika Perang Dunia III Terjadi


Oleh : Darin Brenda Iskarina

HOLOPIS.COM, JAKARTA - Ketegangan geopolitik global kembali menjadi sorotan dalam beberapa waktu terakhir. Isu konflik berskala besar mencuat seiring meningkatnya rivalitas negara-negara adidaya, termasuk Amerika Serikat, China, Rusia, serta aliansi NATO. Bahkan, wilayah strategis seperti Greenland turut masuk dalam radar konflik, menyusul pernyataan dan manuver politik yang memicu kekhawatiran internasional.

Meski disebut Perang Dunia III, konflik global tidak selalu berarti seluruh negara akan terlibat secara langsung. Dalam berbagai skenario, peperangan besar cenderung berpusat pada kekuatan militer utama dan wilayah strategis tertentu.

Berdasarkan analisis yang mengacu pada Global Peace Index, sejumlah negara dinilai relatif lebih aman jika konflik global pecah, dengan mempertimbangkan faktor geografis, netralitas militer, jarak dari target strategis, kesiapan pertahanan sipil, serta ketahanan pangan dan energi.

Berikut ini Sobat Holopis, beberapa negara yang dinilai memiliki peluang lebih besar untuk tetap aman.

1. Swiss

Swiss dikenal dengan kebijakan netralitas militernya yang telah berlangsung selama puluhan tahun. Negara ini memiliki bentang alam pegunungan yang menyulitkan invasi darat. Selain itu, Swiss memiliki sistem perlindungan sipil yang sangat matang, termasuk bunker nuklir yang jumlahnya bahkan melebihi populasi penduduknya, lengkap dengan sistem filtrasi dan pasokan energi darurat.

2. Islandia

Islandia tidak memiliki angkatan bersenjata permanen dan minim target strategis militer. Letaknya yang terpencil di Atlantik Utara membuat negara ini relatif jauh dari pusat konflik. Islandia juga unggul dalam ketahanan energi, dengan pasokan listrik yang hampir sepenuhnya berasal dari panas bumi dan tenaga air.

3. Argentina

Berada di belahan selatan dunia, Argentina relatif jauh dari kawasan konflik utama di Eropa, Asia, dan Amerika Utara. Negara ini memiliki lahan pertanian yang luas, sehingga dinilai mampu menjaga ketahanan pangan apabila perdagangan global terganggu akibat perang besar.

4. Madagaskar

Pulau besar di Samudra Hindia ini dinilai memiliki risiko rendah karena keterpisahan geografisnya dari daratan Afrika. Madagaskar juga memiliki infrastruktur strategis yang terbatas, sehingga kecil kemungkinan menjadi target utama dalam konflik berskala global.

5. Paraguay

Negara di Amerika Selatan ini memiliki nilai strategis militer yang rendah. Namun, sektor pertaniannya yang kuat membuat Paraguay dinilai cukup mandiri secara pangan dan mampu bertahan jika jalur perdagangan internasional terputus.

6. Mongolia

Meski terletak di antara dua kekuatan besar, Rusia dan China, Mongolia justru dinilai memiliki risiko lebih rendah karena minim nilai strategis militer. Dengan wilayah luas dan gaya hidup masyarakat yang relatif mandiri, Mongolia dinilai mampu mempertahankan ketahanan dasar dalam situasi krisis global.

7. Fiji

Terletak jauh di kawasan Pasifik Selatan, Fiji memiliki tingkat keterisolasian tinggi dan nyaris tidak memiliki nilai strategis dalam konflik besar. Negara ini juga memiliki sumber daya alam dan sistem pangan lokal yang memadai untuk menopang kehidupan jika terjadi gangguan global.

8. Selandia Baru

Dengan populasi kecil dan lahan pertanian yang luas, Selandia Baru kerap disebut sebagai salah satu negara paling siap menghadapi krisis global. Letaknya yang terpencil menjadikannya target prioritas rendah, sementara kemampuan swasembada pangan menjadi keunggulan utama.

Intinya Sobat Holopis, para analis menekankan bahwa tidak ada negara yang benar-benar kebal dari dampak perang dunia. Namun, kombinasi netralitas, letak geografis yang terpencil, serta ketahanan energi dan pangan dinilai menjadi faktor penting dalam menentukan tingkat keamanan suatu negara jika konflik global benar-benar terjadi.

Tampilan Utama