HOLOPIS.COM, JAKARTA – BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) menyebut bahwa hingga saat ini bencana banjir di Karawang, Jawa Barat semakin meluas.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari mulanya menjelaskan bahwa bencana banjir di Karawang bermula saat hujan dengan intensitas tinggi menyebabkan meluapnya Sungai Citarum dan Sungai Cibeet.
“Kondisi itu menyebabkan air masuk ke permukiman warga. Banjir tersebut berdampak pada 27 desa di 12 kecamatan dan satu kelurahan,” kata Abdul Muhari dalam keterangannya yang dikutip Holopis.com, Selasa (20/1).
Wilayah kecamatan yang terdampak meliputi Kecamatan Karawang Timur, Telukjambe Timur, Pangkalan, Telukjambe Barat, Karawang Barat, Jayakerta, Cilebar, Rawamerta, Rengasdengklok, Lemahabang, Cilamaya Wetan, dan Klari.
Bencana banjir itu hingga saat ini menurut Abdul menyebabkan setidaknya sebanyak 4.304 Kepala Keluarga (KK) atau 13.841 jiwa terdampak. Dari jumlah tersebut, terdapat 374 balita, 86 bayi, dan 77 lansia.
“Sebanyak 2.413 jiwa mengungsi dengan rincian 2.044 jiwa mengungsi di Kantor Kelurahan Tanjung Pura, Kecamatan Karawang Barat, 250 jiwa mengungsi di Desa Jarang Kugar, Kecamatan Telukjambe Barat, dan 119 jiwa mengungsi di Desa Purwadana, Kecamatan Telukjambe Timur,” jelasnya.
Kondisi banjir tersebut menurut Abdul hingga Senin (19/1) masih bertahan di sejumlah titik.
“Banjir masih merendam wilayah terdampak dengan Tinggi Muka Air (TMA) bervariasi antara 10 hingga 200 sentimeter,” ujarnya.
Menyikapi puncak musim hujan, Abdul kemudian mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk tetap waspada dan siaga dalam mengantisipasi potensi bencana hidrometeorologi.
“Masyarakat diharapkan menyiapkan tas siaga bencana sebagai langkah kesiapsiagaan serta senantiasa memantau informasi dari sumber resmi dan terpercaya, seperti BNPB, BPBD, dan BMKG,” imbaunya.


