Ramadhan Pohan Nilai Sekolah Rakyat Jawaban Masalah Pendidikan Indonesia
HOLOPIS.COM, JAKARTA - Program Sekolah Rakyat yang diresmikan Presiden ke-8 RI Prabowo Subianto terus menuai perhatian publik. Ratusan Sekolah Rakyat resmi beroperasi di berbagai daerah sejak Senin (12/1) lalu, membawa harapan baru bagi kelompok masyarakat yang selama ini terpinggirkan dari akses pendidikan.
Di tengah perbincangan soal kesenjangan pendidikan, Sekolah Rakyat hadir dengan pendekatan berbeda. Program ini menyasar anak-anak dari keluarga miskin, rentan, dan marginal yang kerap menghadapi hambatan struktural untuk sekadar mengenyam bangku sekolah, apalagi pendidikan berkualitas.
Politikus senior sekaligus pengajar S-2 Komunikasi Politik, Ramadhan Pohan, menyatakan dukungan penuhnya terhadap program tersebut. Ia menilai Sekolah Rakyat sebagai terobosan berani yang menyentuh akar persoalan pendidikan di Indonesia, yakni akses.
“Masalah terbesar pendidikan kita adalah akses, terutama bagi masyarakat di bawah garis kemiskinan,” ujar Ramadhan kepada Holopis.com, Minggu (18/1).
Menurutnya, anak petani miskin, buruh tani, pemulung, hingga pekerja kasar selama ini kesulitan mendapatkan pendidikan layak karena tekanan ekonomi yang berat.
“Untuk hidup layak saja sudah setengah mati, apalagi bicara sekolah,” katanya.
Ramadhan juga menyoroti ketimpangan kualitas pendidikan. Ia menyebut akses pendidikan bermutu kerap menjadi “barang mewah” yang hanya bisa dijangkau kalangan berduit. Biaya sekolah swasta nasional maupun internasional yang tinggi membuat masyarakat kelas bawah semakin tersisih dari sistem.
Dalam konteks itu, anggota Dewan Pengawas LKBN Antara ini menilai Sekolah Rakyat sebagai inovasi yang mematahkan anggapan bahwa prestasi hanya milik mereka yang memiliki privilese. Ia mengungkapkan, dalam satu semester berjalan, Sekolah Rakyat telah mencatat capaian signifikan.
“Ada murid yang sudah bisa berbahasa Inggris, bahkan menjuarai olimpiade matematika. Kalau aksesnya sama, prestasinya juga bisa sama,” ujarnya.
Lebih jauh, Sekolah Rakyat dinilai mendobrak pola pendidikan yang terlalu menitikberatkan angka dan kompetisi. Ramadhan menilai pendekatan tersebut kerap mematikan kepercayaan diri anak-anak dari keluarga miskin.
“Mereka lelah dengan kerasnya hidup. Di sekolah formal, banyak yang akhirnya kehilangan semangat, bahkan kehilangan mimpi,” katanya.
Melalui Sekolah Rakyat, para siswa diajak tumbuh dengan memahami potensi diri tanpa tekanan persaingan nilai. Ramadhan menilai pendekatan ini relevan untuk membangun sumber daya manusia yang lebih manusiawi, di mana siswa diberi ruang mengembangkan bakat seperti menulis puisi, teater, musik, hingga keterampilan lain yang selama ini terpinggirkan.