HOLOPIS.COM, YOGYAKARTA – Pendidikan menjadi investasi utama rakyat Palestina di tengah tekanan dan konflik berkepanjangan yang terus berlangsung. Hal tersebut disampaikan Presiden Al-Quds University, Palestina, Prof. Dr. Imad Abu Kishek, saat memberikan Guest Lecture di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Selasa (13/1/2026).
Dalam kondisi ruang hidup yang terbatas dan masa depan yang penuh ketidakpastian, pendidikan dipilih sebagai bentuk perlawanan jangka panjang yang tidak dapat dirampas oleh siapa pun.
Dalam kuliah bertajuk “Life Under Siege: Resistance & Hope of Palestine”, Imad menegaskan bahwa pendidikan memiliki posisi yang berbeda dibandingkan tanah, rumah, atau wilayah yang kerap hilang akibat konflik bersenjata.
“Tanah bisa diambil, rumah bisa dihancurkan, tetapi pendidikan tidak bisa dicuri dari siapa pun,” tegas Imad dalam keterangannya, dikutip Holopis.com, Rabu (14/1/2026).
Dia kemudian menjelaskan bahwa kesadaran menjadikan pendidikan sebagai investasi utama mulai menguat pasca-1967, didorong oleh pengalaman kehilangan wilayah serta kehidupan di bawah tekanan.
Pendidikan dipandang sebagai investasi bagi masyarakat Palestina dalam membangun ketahanan melalui generasi yang berpengetahuan dan terdidik.
Ia menjelaskan bahwa keluarga-keluarga Palestina kemudian menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama. Pendidikan tidak hanya dipandang sebagai sarana peningkatan kualitas hidup, tetapi juga sebagai cara menjaga identitas, martabat, dan keberlangsungan bangsa Palestina di tengah situasi konflik yang tak kunjung usai.
Imad mencontohkan Al-Quds University sebagai representasi nyata dari perlawanan berbasis pengetahuan. Universitas tersebut tetap bertahan menyelenggarakan kegiatan akademik di Yerusalem meskipun menghadapi tekanan administratif, politik, dan institusional yang berkelanjutan.
Keberadaan universitas di wilayah konflik, menurutnya, bukan sekadar aktivitas belajar-mengajar, melainkan simbol keteguhan institusi akademik dalam mempertahankan hak atas pendidikan. Universitas memiliki peran strategis sebagai ruang pembentukan kesadaran, pemikiran kritis, dan masa depan masyarakat Palestina.
Selain itu, Imad juga menyoroti upaya Al-Quds University dalam menjaga kualitas pendidikan di tengah berbagai keterbatasan. Ia menyebut bahwa lulusan Al-Quds University mampu bersaing secara akademik dan profesional, serta memperoleh pengakuan melalui berbagai mekanisme evaluasi pendidikan.
“Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa pendidikan dapat menjadi sarana perlawanan yang efektif dan berkelanjutan. Melalui ilmu pengetahuan, rakyat Palestina membangun daya tahan yang tidak bergantung pada kekuatan fisik semata,” ujarnya.
Guru Besar di bidang kebijakan publik tersebut turut mengajak mahasiswa untuk memandang pendidikan sebagai kekuatan transformasional dalam menghadapi ketidakadilan global. Menurutnya, ilmu pengetahuan memiliki peran penting dalam membentuk kesadaran kritis serta memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan dan perdamaian.
Pesan tersebut menegaskan bahwa di tengah konflik yang berkepanjangan, pendidikan bukan hanya alat bertahan hidup, tetapi juga fondasi harapan dan perlawanan masa depan rakyat Palestina.


