Sektor Ekraf Sumbang Rp24,46 Triliun terhadap PDB selama Nataru 2025/2026

32 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Fenomena libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026 ternyata bukan sekadar ritual mudik dan hura-hura. Data terbaru menunjukkan sebuah pergeseran fundamental ekonomi kreatif (ekraf) kini menjadi mesin utama yang menggerakkan setengah dari lonjakan PDB nasional.

Kementerian Ekonomi Kreatif mencatat kontribusi langsung ekraf selama periode ini menembus angka Rp24,46 triliun. Angka ini merepresentasikan lebih dari 50% total tambahan PDB nasional yang sebesar Rp48,56 triliun.

- Advertisement -Hosting Terbaik

Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, menegaskan bahwa angka fantastis ini tidak datang secara kebetulan. “Ini bukti bahwa ekraf mampu menjadi tulang punggung ekonomi jika dirancang dalam strategi tahunan yang terintegrasi,” ujarnya.

Pernyataan ini memberikan sinyal kepada pelaku pasar bahwa pemerintah mulai melihat momentum liburan sebagai platform industrialisasi produk lokal, bukan sekadar lonjakan konsumsi musiman.

- Advertisement -

Jika membedah komposisi “kue” ekonomi senilai Rp24,46 triliun tersebut, subsektor kuliner masih mendominasi pasar sebagai raja yang tak tertandingi dengan kontribusi mencapai Rp19,9 triliun. Di posisi berikutnya, subsektor fesyen menyumbangkan angka yang signifikan sebesar Rp3,9 triliun, disusul oleh subsektor kriya yang turut memperkuat capaian tersebut dengan nilai Rp0,24 triliun.

Data menunjukkan bahwa belanja rata-rata wisatawan untuk produk kreatif mencapai Rp858 ribu per orang. Angka ini menjadi indikator penting bagi investor dan pelaku usaha retail bahwa daya beli masyarakat terhadap produk turunan wisata (oleh-oleh dan cinderamata) tetap solid di tengah isu pelemahan daya beli global.

Satu hal unik dalam laporan kali ini adalah pemanfaatan data Google Trends untuk membedah psikologi belanja masyarakat secara real-time. Pola konsumsi terlihat sangat ritmis, di mana puncak minat terhadap hiburan keluarga seperti bioskop dan atraksi seni terjadi pada 25-26 Desember.

Memasuki 28 Desember, fokus konsumen beralih tajam ke arah eksplorasi kuliner lokal, sebelum akhirnya ditutup dengan lonjakan drastis pencarian akomodasi dan hotel menjelang puncak perayaan tahun baru pada 31 Desember.

Pola ini menunjukkan bahwa konsumsi ekraf memiliki “ritme” yang dapat diprediksi. Bagi produsen, data ini adalah gold mine untuk mengatur strategi stok dan waktu promosi yang tepat sasaran.

Optimisme yang nyata terpancar di tingkat akar rumput sebagaimana terekam dalam survei kinerja usaha teranyar. Sebanyak 76,93% pelaku usaha melaporkan adanya kenaikan volume penjualan yang signifikan, sementara 73,08% di antaranya berhasil mencatatkan pertumbuhan pada margin keuntungan mereka selama periode libur panjang tersebut.

Mayoritas dari mereka adalah pelaku skala mikro. Hal ini menandakan bahwa likuiditas selama libur Nataru benar-benar mengalir ke bawah (trickle-down effect), memberikan napas segar bagi permodalan UMKM di awal tahun 2026.

Meski angka pertumbuhan positif, Menteri Teuku Riefky memberikan catatan kritis mengenai penguatan rantai pasok dan akses pembiayaan. Lonjakan permintaan yang drastis seringkali belum bisa direspons secara maksimal oleh kapasitas produksi lokal yang terbatas.

Ke depannya, integrasi ekosistem melalui platform seperti Pasar Ekraf diharapkan mampu mengubah momentum “panen raya” liburan menjadi pertumbuhan yang stabil dan berkelanjutan bagi jenama (brand) lokal untuk bersaing di kancah global.

Data Nataru 2025/2026 ini membuktikan bahwa ekonomi Indonesia semakin bergeser ke arah ekonomi berbasis pengalaman (experience economy). Produk yang laku bukan lagi sekadar barang, melainkan barang yang memiliki narasi, budaya, dan pengalaman kreatif di dalamnya.

- Advertisement -
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
32 Shares
💬 Memuat kolom komentar Facebook...
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut

Berita Terkait

Berita Terkait

Berita Terbaru

holopis