HOLOPIS.COM, JAKARTA – Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel menegaskan bahwa negaranya merupakan negara yang bebas, merdeka, dan berdaulat. Pernyataan tersebut disampaikan pada Minggu (11/1) sebagai respons atas tuduhan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut Kuba memberikan “jasa keamanan” kepada Venezuela sebagai imbalan minyak.
Melalui platform media sosial X, Diaz-Canel menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak memiliki dasar moral untuk melontarkan tuduhan tersebut. Ia menilai Washington kerap memandang berbagai hal, termasuk nyawa manusia, sebagai komoditas bisnis.
“Amerika Serikat tidak memiliki otoritas moral untuk menuduh Kuba dalam hal apa pun,” tulis Diaz-Canel, dikutip Holopis.com, Senin (12/1).
Ia juga menyebut reaksi AS terhadap Kuba sebagai bentuk sikap berlebihan. Menurutnya, hal itu dipicu oleh keputusan berdaulat rakyat Kuba dalam menentukan model politik yang mereka pilih sendiri.
“Mereka yang menyalahkan Revolusi atas kesulitan ekonomi parah yang kami alami seharusnya malu dan diam,” ujar Diaz-Canel.
Ia menambahkan bahwa kondisi ekonomi Kuba tidak bisa dilepaskan dari kebijakan Amerika Serikat.
“Karena mereka tahu dan mengakui bahwa kesulitan tersebut merupakan akibat dari tindakan keras yang sangat menekan dan telah diberlakukan oleh AS terhadap kami selama enam dekade,” lanjutnya.
Dalam pernyataannya, Diaz-Canel juga menegaskan bahwa Kuba tidak pernah menyerang atau mengancam negara lain. Namun, ia memastikan negaranya siap mempertahankan kedaulatan jika diperlukan.
“Kuba siap mempertahankan diri hingga tetes darah terakhir,” tegas Diaz-Canel.



