HOLOPIS.COM, JAKARTA – Inisiator Gerakan Nurani Kebangsaan (GNK) Habib Syakur Ali Mahdi Al Hamid menilai bahwa polemik yang melanda Pandji Pragiwaksono adalah bagian dari konsekuensi hukum sebab akibat.
Hal ini karena materi Pandji jelas akan sangat mengganggu kenyamanan para pihak yang disenggol alam konten pertunjukan Standup Comedy Mens Rea tersebut.
“Saya pikir itu bagian dari hukum sebab akibat. Kalau kita tonton show-nya kan memang dia menyinggung banyak orang, tentu pasti banyak yang bakal counter attack,” kata Habib Syakur kepada Holopis.com, Minggu (11/1/2026).
Persoalan ketersinggungan menurutnya tidak bisa dibatasi. Karena pada dasarnya reaksi ketersinggungan pun bisa terjadi pada orang yang memang sedang tersinggung karena pribadi dan kepentingannya disenggol.
Dan ada pula reaksi ketersinggungan itu muncul dari orang yang sebenarnya tidak tersinggung, namun mendapatkan pesanan dari pihak yang tersinggung untuk melakukan reaksi. Situasi ini kata Habib Syakur terjadi karena pragmatisme ketersinggungan.
“Kenapa bisa ramai, karena ada ketersinggungan yang organik, ini muncul dari orang yang memang dirinya disinggung. Atau bisa karena efek amplifikasi dari orang yang diajak untuk tersinggung padahal dia sebenarnya tidak tersinggung,” ujarnya.
Oleh sebab itu, ia menyarankan agar Pandji Pragiwaksono tetap melanjutkan kehidupannya seperti biasa. Sebab serangan yang dilancarkan sejumlah kalangan kepadanya, ada bagian dari konsekuensi logis materi jokes-nya yang memang menyinggung.
“Semoga Pandji bisa menghadapi, karena nggak mudah lho diserang berjamaah begitu,” tukasnya.
Saat ditanya apakah materi Pandji salah, Habib Syakur menilai bahwa apa yang dibawakan oleh Pandji sebenarnya adalah konten yang sudah biasa dikonsumsi publik. Mulai dari kasus Teddy Minahasa, menyinggung Ferdy Sambo, kemudian soal izin tambang yang diberikan pemerintah kepada ormas Islam seperti PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama), dan lain sebagainya.
Bahkan yang cukup sentimentil adalah isu Pagar Laut yang menyebut nama Sugianto Kusuma alias Aguan. Habib Syakur menilai bahwa hal itu bisa sangat memungkinkan untuk membuat Bos Agung Sedayu Group tersebut tersinggung. Walaupun konten yang dibahas salah satu founder Standup Comedy Indonesia tersebut adalah materi yang diberitakan oleh Majalah Tempo.
“Dia menyinggung orang besar, orang punya power, punya pengaruh, ya konsekuensinya bisa berbagai macam. Intinya itu bagian dari konsekuensi logis, dan saya rasa Pandji sangat sadar efek samping dari materinya,” tandas Habib Syakur.
Hanya saja ia tak sependapat dengan sikap Padji yang menyinggung situasi fisik Gibran Rakabuming Raka dengan sebutan “Ngantuk”. Walaupun ia tak ingin masuk ke dalam materi medis karena merasa bukan kepakarannya, Habib Syakur tetap menilai hal itu kurang etis apalagi jika memang benar itu adalah bagian dari kondisi gangguan medis yang dialami Wakil Presiden Republik Indonesia itu.
“Ya kalau serang fisik, serang harkat martabat seseorang kan tetap tidak boleh ya, walaupun itu dalam konteks jokes atau komedi. Kalau benar itu karena faktor medis, kan tentu jangan. Silakan bicarakan soal kebijakan, jangan harkat martabatnya sebagai individu dan manusia yang memang karya Tuhan,” tutur Habib Syakur.
Lebih lanjut, ulama asal Malang Raya ini pun berharap tidak ada yang coba melaporkan Pandji karena materi jokes-nya itu. Sebab orang-orang yang disinggung Pandji, Gibran maupun kelompok seperti NU dan Muhammadiyah pun tak ingin memperpanjang persoalan.
Justru dengan upaya pemidanaan Pandji Pragiwaksono, justru akan merugikan sendiri pihak-pihak yang disinggung.
“Ya yang kemarin laporin sebaiknya cabut aja, toh juga yang rugi akan NU-nya sendiri, yang rugi bisa Mas Gibran-nya. Sudahlah, semua saling muhasabah diri bagaimana menjadi manusia yang sebenar-benarnya manusia,” pungkasnya.



