HOLOPIS.COM, JAKARTA – Media sosial tengah diramaikan oleh perbincangan soal kata “kapitil” yang mendadak viral. Banyak netizen mengira istilah tersebut hanyalah lelucon atau permainan kata. Padahal, kapitil merupakan lawan kata resmi dari kapital yang tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).
Seperti halnya kata ramai yang berlawanan dengan sepi, atau panas dengan dingin, kata kapital ternyata juga memiliki antonim. Namun, tidak sedikit pengguna internet yang baru mengetahui fakta ini dan merasa istilah “kapitil” terdengar asing, bahkan dianggap bercandaan.
Jadi Bahan Guyonan, Padahal Resmi Tercatat di KBBI

Salah satu warganet menceritakan pengalamannya saat pelajaran bahasa Indonesia. Ia mengaku kelasnya sontak tertawa ketika sang guru menyebutkan bahwa lawan kata kapital adalah kapitil.
Banyak yang mengira jawaban tersebut hanya candaan semata. Komentar serupa juga bermunculan, mulai dari netizen yang benar-benar penasaran hingga yang membandingkannya dengan kata-kata lain yang terdengar tak biasa.
Padahal, Badan Bahasa melalui tim penyusun KBBI telah secara resmi memasukkan kata kapitil sebagai antonim dari kapital.
Dalam KBBI, kapitil diartikan sebagai “cak kecil”, yakni huruf kecil seperti a, b, c, dan seterusnya. Artinya, istilah ini bukan sekadar bahasa gaul atau plesetan internet.
Kepala Redaksi KBBI dari Badan Bahasa, Dewi Puspita, menjelaskan bahwa kata kapitil sejatinya bukan istilah baru.
“Kata kapitil ini sebetulnya sudah lama beredar di kalangan Badan Bahasa untuk menyebut huruf nonkapital,” kata Dewi.
Ia menyebut kata tersebut sudah lama dikenal dan digunakan di lingkungan Badan Bahasa, meskipun sebelumnya lebih sering muncul dalam konteks santai atau selorohan internal.
Menurut Dewi, penggunaan kata kapitil memang belum populer di masyarakat luas, sehingga wajar jika banyak yang merasa asing. Namun, secara kebahasaan, kapitil memiliki dasar yang jelas dan kini telah diakui secara resmi dalam kamus.
Viralnya istilah kapitil menunjukkan bagaimana bahasa terus hidup dan berkembang di tengah masyarakat. Media sosial pun berperan besar dalam memperkenalkan kembali kosakata yang sebelumnya jarang terdengar, sekaligus memicu diskusi ringan seputar bahasa Indonesia yang kerap dianggap kaku, namun ternyata bisa juga mengundang tawa.

