HOLOPIS.COM, JAKARTA – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan penguatan sektor pertanian, khususnya jagung, menjadi kunci pencegahan kejahatan, kemiskinan, dan pengangguran sejak dari hulu.
“Swasembada jagung harus dilihat sebagai satu kesatuan. Program ini menurunkan kemiskinan, meningkatkan kesejahteraan, sekaligus mengurangi pengangguran,” ujar Mentan Amran, seperti yang dikutip Holopis.com dalam keterangan pers, Kamis, (8/1).
Mentan Amran juga memaparkan kebijakan percepatan tanam dan penguatan produksi jagung yang dijalankan pemerintah telah menunjukkan hasil positif. Dalam satu tahun terakhir, produksi jagung nasional mengalami peningkatan signifikan.
“Hasilnya sangat baik. Presiden juga memberikan apresiasi. Produksi jagung naik hingga 20 persen pada semester pertama 2025, dengan total produksi Januari hingga Desember mencapai 16,11 juta ton,” katanya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen (JPK-KA14%) sepanjang Januari–Desember 2025 tercatat sebesar 16,11 juta ton. Angka tersebut meningkat 6,44 persen atau sekitar 974 ribu ton dibandingkan tahun sebelumnya.
Kenaikan produksi tersebut didukung oleh bertambahnya luas panen jagung nasional yang mencapai 2,72 juta hektare, atau tumbuh 6,73 persen secara tahunan.
Selain memenuhi kebutuhan dalam negeri, Mentan Amran menyebut Indonesia mulai bersiap memasuki pasar ekspor jagung seiring melimpahnya produksi di sejumlah daerah sentra.
“Kalau dihitung, ada sekitar 700 ribu hektare. Dengan produktivitas 5 ton per hektare, potensi produksi mencapai 3,5 juta ton. Kita harus mulai bersiap ekspor dan Bulog perlu siap menyerap,” ujarnya.
Sementara itu, BPS memproyeksikan potensi produksi jagung pada periode Januari–Februari 2026 mencapai 3,14 juta ton JPK-KA14% dengan luas panen sekitar 0,53 juta hektare. Proyeksi tersebut menunjukkan tren penguatan produksi jagung nasional di awal 2026.

