HOLOPIS.COM, JAKARTA – Langkah Amerika Serikat (AS) yang menyerang Venezuela dan menculik kepala negaranya dinilai sebagai bentuk kolonialisme baru. AS dicap bertindak sewenang-wenang demi kepentingan menguasai negara yang berada di Amerika Selatan itu.
Pakar Center for Strategic and International Studies (CSIS) Rizal Sukma menganalisa demikian berdasarkan tindakan AS yang arogan dengan membanggakan kekuatan militernya. Dia menyinggung cata AS yang menculik Presiden Venezuela Nicolas Maduro beserta istri, Cilia Flores.
“Saya melihat apa yang terjadi di Venezuela is a very simple plain form of new colonialism, jadi ini kolonialisme baru. Kita untuk membaca apa yang terjadi di Venezuela itu, tidak hanya dari proses masuknya angkatan bersenjata Amerika Serikat untuk menculik Presiden Venezuela,” kata Rizal dalam forum diskusi di Jakarta, Jumat, (9/1/2026).
Dia juga heran dengan omongan banyak pejabat AS usai berhasil menggulingkan rezim Nicolas Maduro. Menurutnya, cara AS itu memperlihatkan sikap sewenang-wenang yang melanggar kedaulatan negara lain.
Rizal dalam forum itu juga menyinggung pernyataan Presiden AS Donald Trump dengan New York Times. Menurut dia, dari omongan Presiden AS ke-45 dan 47 itu terlihat sekali bahwa rezimnya ingin memperlihatkan kekuatan sebagai negara kuat dalam segala aspek.
Bagi dia, pernyataan Trump itu sebagai isyarat AS mempraktikkan gaya kolonialisme baru. Dia menuyebut sebagai negara adidaya, AS ingin mendominasi politik dunia di tahun mendatang. Apalagi, kiblat politik Venezuela selama ini lebih dekat dengan rival AS seperti Rusia dan China.
“Cara AS itu ingin perlihatkan kolonialisme baru di awal tahun 2026 ini. Gaya itu agar dilihat dengan mendominasi politik internasional di tahun-tahun mendatang,” tutur Rizal.
Lebih lanjut, AS juga dinilainya ingin memberlakukan adagium lama dalam studi hubungan internasional yang sudah 3.000 tahun. “Bahwa negara kuat bisa melakukan apa saja yang mereka bisa, sementara negara-negara yang lemah harus menderita,” katanya.
Dengan manuver AS atas Venezuela, Indonesia harus waspada. Ia mengingatkan demikian karena kekuatan AS yang dipertontonkan dalam menggulikan rezim Maduro terlihat besar. Kata dia, Indonesia mesti perkuat ketahanan politik luar negeri.
Seperti diketahui, militer AS di era Trump memperlihatkan arogansinya dengan menyerang Caracas, Ibu Kota Venezuela, pada Sabtu, (3/1). Pasukan AS pun menculik Nicolas Maduro beserta istro, Cilia Flores untuk dibawa ke AS untuk diadili.
Dalih Trump karena Venezuela era Maduro berbisnis narkoba dengan membahayakan AS. Namun, AS disinyalir menyerang Venezuela karena negara itu memiliki pasokan cadangan minyak mentah terbesar di dunia.

