HOLOPIS.COM, BOGOR – Udara sejuk di Padepokan Garuda Yaksa, Hambalang, menjadi saksi bisu dimulainya babak baru pemerintahan di tahun 2026. Pada Selasa (6/1), Presiden Prabowo Subianto mengumpulkan para menterinya bukan sekadar untuk mengevaluasi apa yang sudah dilakukan sepanjang 2025 dan meramu strategi untuk masa depan.
Dalam suasana retret yang intens namun penuh penghargaan, Presiden memberikan sinyal kuat tentang satu kata kunci yaitu kemandirian. “Bangsa Indonesia harus mandiri, bangsa Indonesia harus berdiri di atas kaki kita sendiri,” tegas Presiden Prabowo di depan jajaran Kabinet Merah Putih.
Dalam kesempatan tersebut, Menteri Ekraf, Teuku Riefky, mengungkapkan sebuah fakta menarik bahwa pertumbuhan ekonomi kreatif kini bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan kontributor nyata yang melampaui rata-rata nasional. “Potensi terbesar Indonesia justru tumbuh dari daerah,” ujar Teuku Riefky dengan nada optimis.
Data terbaru menunjukkan bahwa sektor ini bukan lagi sekadar hobi, melainkan sebuah industri raksasa yang menjadi tulang punggung baru ekonomi nasional. Hal ini dibuktikan dengan penyerapan 27,4 juta tenaga kerja yang mencapai 107 persen dari target, di mana menariknya lebih dari separuh pahlawan kreatif tersebut merupakan anak muda di bawah usia 40 tahun.
Tak hanya di dalam negeri, taring ekonomi kreatif juga memicu rekor ekspor tertinggi dalam lima tahun terakhir dengan nilai menembus 26,68 miliar dolar AS, atau menyumbang hampir 12 persen dari total ekspor nonmigas nasional. Kepercayaan pasar global ini pun selaras dengan derasnya arus modal, di mana realisasi investasi sektor ekraf tercatat menyentuh angka fantastis Rp 132,04 triliun, melampaui target yang ditetapkan dalam RPJMN.
Hal yang paling menyentuh dari langkah strategis awal tahun ini adalah fokus pada pemulihan pascabencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Kemenekraf tidak hanya membawa bantuan logistik, tetapi membawa harapan lewat program holistik.
Bukan sekadar membangun kembali fisik pabrik yang hancur, Kemenekraf bergerak secara komprehensif melalui penyelenggaraan Residensi Kreatif serta Pelatihan Masak bersama Master untuk mengasah kembali keterampilan teknis warga.
Di sisi lain, tradisi lokal dihidupkan kembali lewat program Akselerasi Kriya (Kriyasi) yang memfokuskan pada kemahiran sulam dan anyam, sementara aspek psikososial pun tak luput dari perhatian dengan mengajak anak-anak di daerah bencana melukis bersama sebagai sarana penyembuhan trauma berbasis seni.
“Pemulihan ini harus dilakukan secara holistik. Kita tidak hanya membangun kembali produksi, tetapi juga mengembalikan harapan dan daya saing,” tutup Teuku Riefky.

