HOLOPIS.COM, JAKARTA – Netizen saat ini tengah dihebohkan dengan perdebatan soal salah satu materi stand-up comedy Pandji Pragiwaksono. Yakni soal gimmick wajah ngantuk yang diperagakan untuk menirukan ekspresi wajah Wapres Gibran Rakabuming Raka di pertunjukan komedi Mens Rea.
Sontak bit komedi Pandji tersebut direspons oleh penyanyi sekaligus dokter estetik Teuku Adifitrian alias Tompi.
Menurut Tompi, komedi Pandji tersebut sangat tidak etis karena menertawakan kondisi wajah Gibran yang terkesan terlihat lemes dan ngantuk, yang kemudian ia sebut dengan istilah medis Ptosis.
Lantas apa sebenarnya Ptosis, apa saja penyebab seseorang mengidap penyakit Potsis, dan apa efek sampingnya bagi para penderita penyakit tersebut.
Dikutip dari Lions Eyes Institute, Ptosis adalah sebuah kondisi di mana kelopak mata atas salah satu atau kedua mata turun di atas mata karena faktor otot levator. Penurunannya mungkin nyaris tidak terlihat atau kelopak mata bisa melorot sedemikian rupa sehingga menutupi pupil, sehingga sedikit menghalangi cahaya masuk sempurna. Bagi para penderita Ptosis, maka situasi itu dapat membatasi atau bahkan sepenuhnya menghalangi penglihatan normal.
Kondisi gangguan medis ini dapat menyerang anak-anak maupun orang dewasa.
Untuk penderita Ptosis pada anak-anak, biasanya terjadi karena faktor bawaan lahir, di mana mereka memang sejak lahir diberikan Tuhan dalam kondisi mata seperti itu. Ini yang disebut ptosis kongenital.
“Anak-anak mungkin berisiko mengalami masalah penglihatan jika menderita ptosis. Jika kelopak mata anak turun sedemikian rupa sehingga menghalangi penglihatan, ambliopia ‘mata malas’ dapat berkembang dan satu mata akan memiliki penglihatan yang lebih baik daripada yang lain,” tulis artikel medis Lions Eye Institute seperti dikutip Holopis.com, Kamis (8/1/2026).
Pada kebanyakan anak dengan ptosis kongenital yang tidak diobati, kondisinya cukup stabil dan tidak memburuk seiring pertumbuhan anak, tetapi anak tersebut disarankan harus mengunjungi spesialis mata setiap tahun untuk mengetahui perubahan terbarunya.
Selain terjadi pada anak, ptosis juga bisa terjadi pada orang dewasa. Artinya, kondisi kesehatan ini terjadi pada saat seseorang menginjak usia dewasa. Kondisi ini disebut dengan istilah ptosis involusional, di mana ketika otot levator meregang dan terpisah dari kelopak mata.
Penyebab utama ptosis bagi orang dewasa bisa saja terjadi karena faktor internal atau eksternal. Untuk faktor internal bisa karena terjadi penuaan atau gangguan kesehatan seperti myasthenia gravis atau stroke. Dan untuk faktor eksternal bisa terjadi karena efek samping operasi, cedera mata, atau penggunaan obat-obat tertentu.
“Ini bisa disebabkan oleh penuaan, akibat cedera mata, atau terkadang sebagai efek samping dari operasi mata tertentu. Kadang-kadang penyakit lain dapat memengaruhi otot kelopak mata, menyebabkan ptosis,” terang mereka.
Apa Saja Gejala Ptosis ?
Tanda ptosis yang paling jelas adalah kelopak mata yang turun, dan tingkat penurunan bervariasi dari orang ke orang.
Memiringkan kepala ke belakang untuk mencoba melihat dari bawah kelopak mata (ini dapat menyebabkan masalah kepala dan leher).
Seseorang yang mengalami ptosis akan sering terlihat memaksa untuk mengangkat alis berulang kali demi mencoba mengangkat kelopak mata.
Ptosis yang disebabkan oleh masalah medis yang mendasari mungkin memiliki gejala tambahan yang terkait dengan penyakit tersebut.
Tindakan Medis
Pembedahan bisa sangat direkomendasikan untuk mengobati ptosis pada anak-anak jika memang sangat memengaruhi penglihatan. Operasi tersebut berupa mengencangkan otot levator atau menempelkan kelopak mata ke otot lain yang dapat membantu mengangkat kelopak mata. Tujuannya adalah untuk meningkatkan penglihatan.
Jika kondisi lain seperti terdapat ambliopia alias mata malas, mengenakan penutup mata atau kacamata khusus, atau menggunakan obat tetes mata akan direkomendasikan untuk memperkuat mata yang lebih lemah.
Namun apabila ptosis membuat penglihatan tidak terpengaruh, operasi dapat ditunda sampai mereka lebih besar. Karena bentuk mata anak-anak berubah seiring pertumbuhan, sebab terkadang masalah penglihatan dapat berkembang jika ptosis memburuk, sehingga pemeriksaan rutin oleh dokter mata anak harus dilakukan.

