HOLOPIS.COM, JAKARTA – Sobat Holopis masih ingat nama Manohara Odelia Pinot? Wanita yang juga akrab dipanggil Mano ini sempat viral di akhir tahun 2000an karena kasusnya dengan mantan suami, Pangeran Kelantan, Tengku Muhammad Fakhry. Saat ini, Manohara mengaku dianiaya dan berusaha untuk kabur dari cengkraman suami demi bisa pulang ke Indonesia.
Saat itu, kasus ini benar-benar menggemparkan Indonesia. Sampai-sampai, Manohara membintangi sebuah sinetron yang menggambarkan kesengsaraannya. Namun kali ini melalui surat terbuka di Instagram, Manohara sudah tidak mau lagi disebut sebagai mantan istri Pangeran Kelantan.
“Selama bertahun-tahun, saya terus-terusan disebut dalam artikel-artikel sebagai ‘Mantan istri [blank]. Saya menulis ini untuk secara hormat mengklarifikasi bahwa deskripsi ini tidak akurat dan menyesatkan,” tulis Manohara di akunnya @manodelia, dikutip Holopis.com, Selasa (6/1).
Tak hanya itu, Mano memberikan fakta yang mencengangkan, bahwa ‘pernikahan’ yang terjadi saat ia remaja bukanlah hubungan romantis, dan bukan hungan konsensual.
“Apa yang terjadi pada masa remaja saya, bukanlah hubungan romantis, dan bukan hubungan konsensual, dan bukan pernikahan legal,” kata Manohara.
Manohara mengatakan bahwa pernikahan itu bukan pernikahan yang ia inginkan, atau ingin ia masuki sesuai dengan keinginannya.
“Itu bukan hubungan yang saya inginkan, atau saya jalani dengan keinginan sendiri,” kata Manohara.
Manohara : Saya Masih di Bawah Umur dan Dalam Situasi Penuh Paksaan
Dalam pernikahannya saat itu, Manohara mengatakan ia masih di bawah umur, dan belum memiliki kapasitas untuk memberikan persetujuan apapun.
“Pada saat itu, saya masih di bawah umur dan berada dalam situasi penuh paksaan serta tanpa kebebasan, yang berarti saya tidak memiliki pilihan nyata maupun kapasitas untuk memberikan persetujuan,” tutur Manohara.
Ia pun benar-benar ogah panggilan ‘mantan istri’ disematkan terhadap identitasnya. Karena menurutnya, mantan istri tidak sesuai diberikan kepadanya jika melihat dari sejarah pernikahannya terhadap bangsawan Malaysia itu.
“Penggunaan istilah ‘mantan istri’ menyiratkan adanya hubungan dan pernikahan yang sah, sukarela, serta dilakukan oleh orang dewasa. Anggapan tersebut tidak benar. Istilah itu membingkai ulang situasi yang bersifat memaksa seolah-olah merupakan hubungan yang sah, dan mendistorsi kenyataan yang sebenarnya terjadi,” lanjutnya.
Karena itu, Manohara meminta para jurnalis Indonesia agar tidak menggunakan label itu. Ia mengatakan hal itu sama saja memberikan penggambaran yang keliru dan berarti tidak sesuai praktik jurnalistik yang etis.
“Saya meminta media di Indonesia, para editor, penulis, serta platform digital (termasuk Google dan Wikipedia) untuk berhenti menggunakan label tersebut ketika merujuk kepada saya. Terus membuka artikel dengan penggambaran yang keliru ini bukan hanya tidak akurat, tetapi juga merupakan praktik jurnalisme yang tidak etis,” jela Manohara.
Manohara kemudian menekankan bahwa permintaan ini bukan karena ia tidak mau mengungkit masa lalu, namun ia ingin melihat pemberitaan tentang dirinya lebih akurat dan sesuai dengan etika yang berlaku.
“Permintaan ini bukan tentang membuka kembali masa lalu. Ini tentang akurasi, etika, serta penggunaan bahasa dan konteks yang bertanggung jawab,” ucapnya.
“Bahasa yang digunakan dengan hati-hati sangatlah penting. Kata-kata memiliki konsekuensi. Para penyintas berhak agar kisah mereka digambarkan secara jujur dan dengan martabat,” pungkas Manohara.



