HOLOPIS.COM, JAKARTA – Pemerintah menegaskan komitmennya menjaga keberlangsungan pendidikan di tengah bencana dengan mengalokasikan dana Rp35 miliar untuk membantu lebih dari 16 ribu guru terdampak di sejumlah daerah. Bantuan tersebut diberikan sebagai tunjangan langsung agar para pendidik tetap mampu menjalankan tugasnya meski berada dalam situasi darurat.
Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Gerindra Jawa Tengah (Jateng), Sudaryono menilai kebijakan ini sebagai langkah strategis yang sering luput dari perhatian publik, karena penanganan bencana kerap terlalu fokus pada perbaikan infrastruktur semata.
“Kalau sekolah ambruk kena banjir, tembok bisa kita bangun ulang minggu depan. Tapi bagiamana kalau mental guru yang runtuh karena bencana? Masa depan anak-anak di wilayah itu bisa macet total,” ujar Sudaryono dalam unggahan di akun Instagram pribadinya @sudaru_sudaryono, dikutip Holopis.com, Selasa (6/1/2026).
Ia mengingatkan bahwa guru juga merupakan korban bencana yang mengalami kerugian secara langsung, mulai dari kehilangan tempat tinggal hingga harta benda. Namun di saat yang sama, mereka tetap dituntut hadir mendidik anak-anak di tengah kondisi serba terbatas.
“Kita sering lupa, saat bencana terjadi, guru juga manusia biasa yang rumahnya bisa hanyut, bajunya kotor kena lumpur, dan hartanya hilang,” lanjut pria yang juga menjabat sebagai Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) tersebut.
Menurut Sudaryono, Presiden Prabowo Subianto memahami betul pentingnya menjaga kondisi guru sebelum menuntut mereka tetap mengajar. Karena itu, pemerintah tidak ingin pendidik dipaksa mengajar di ruang darurat tanpa dukungan logistik yang memadai.
“Presiden Prabowo paham betul urutan prioritas ini. Beliau tidak mau guru disuruh perang mengajar di kelas darurat tanpa bekal logistik yang cukup. Dana 35 miliar rupiah langsung diturunkan khusus untuk tunjangan guru terdampak,” tegasnya.
Sudaryono menjelaskan, bantuan tersebut bersifat taktis dan mendesak agar kebutuhan dasar para guru tetap terpenuhi, terutama di tengah kesibukan mereka mengurus peserta didik di lokasi pengungsian.
“Langkah taktis supaya dapur mereka tetap ngebul selagi mereka sibuk mengurus anak-anak di tenda pengungsian,” katanya.
Adapun penerima manfaat tersebar di sejumlah wilayah terdampak bencana, mulai dari Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, hingga Lumajang. Total lebih dari 16 ribu pendidik disebut telah merasakan langsung kebijakan tersebut.
“Negara hadir memastikan pendidik aman, mereka bisa fokus mengajar tanpa pusing memikirkan besok makan apa,” ujar Sudaryono.
Ia menekankan bahwa bantuan tunai memiliki peran vital dalam situasi darurat, karena mampu menjaga roda pendidikan tetap berjalan meski sarana dan prasarana belum sepenuhnya pulih.
“Jangan remehkan dampak bantuan tunai seperti ini. Di tengah situasi serba sulit, uang tunjangan itu adalah bensin utama agar roda pendidikan tetap berputar walau fasilitas terbatas,” ucapnya.
Menurut Sudaryono, para guru tidak menuntut belas kasihan, melainkan membutuhkan dukungan nyata agar tetap mampu berdiri di depan murid-muridnya dengan kepala tegak.
“Para guru ini tidak minta dikasihani, mereka hanya butuh pegangan kuat dari pemerintah supaya bisa tetap berdiri tegak di depan murid-muridnya,” katanya.
Ia pun menilai kebijakan tersebut sebagai standar penanganan bencana yang tepat sasaran, karena tidak hanya membangun infrastruktur, tetapi juga merawat manusia yang menjalankan fungsi strategis negara.
“Ini standar penanganan bencana yang tepat sasaran. Fokusnya jangan melulu fisik bangunan, tapi manusianya juga yang diurus. Terima kasih Presiden Prabowo,” pungkas Sudaryono.

