Produksi Sawit RI Diramal Tumbuh 49,8 juta Ton pada Tahun 2026

36 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS) merilis laporan riset Outlook Sawit Indonesia 2026 yang memetakan arah industri kelapa sawit nasional di tengah dinamika produksi, penguatan konsumsi domestik, serta tekanan kebijakan dan pasar global.

Ketua Pengurus IPOSS, Nanang Hendarsoh, menyampaikan bahwa laporan tersebut disusun sebagai panduan strategis bagi pengelolaan industri sawit Indonesia di tengah perubahan kebijakan, pasar, dan tata kelola global.

- Advertisement -Hosting Terbaik

“IPOSS menyusun Outlook Sawit 2026 untuk memetakan risiko dan pilihan kebijakan yang perlu diambil agar industri sawit Indonesia tetap berdaya saing dan berkelanjutan. Laporan ini juga menjadi dasar untuk mendorong perbaikan tata kelola, peningkatan produktivitas, serta keseimbangan antara kebutuhan domestik dan kepentingan ekspor,” ujar Nanang dalam keterangan tertulisnya, dikutip Holopis.com, Senin (5/1/2026).

Nanang menambahkan, memasuki tahun 2026 industri sawit menghadapi tantangan struktural. Pertumbuhan sektor ini tidak lagi bertumpu pada ekspansi lahan, melainkan pada peningkatan produktivitas, kepastian tata kelola, serta penerapan prinsip keberlanjutan.

- Advertisement -

Dalam laporan tersebut, IPOSS memproyeksikan produksi sawit Indonesia tumbuh moderat hingga sekitar 49,8 juta ton pada 2026. Proyeksi ini seiring dengan pemulihan fase produksi tanaman dan perbaikan kondisi iklim. Secara global, pasokan crude palm oil (CPO) masih terkonsentrasi pada Indonesia dan Malaysia, sehingga kinerja produksi kedua negara menjadi faktor penentu stabilitas harga minyak nabati dunia.

IPOSS juga menilai kelapa sawit tetap memegang peran strategis dalam perekonomian nasional, baik sebagai sumber devisa, penggerak ekonomi daerah, maupun pilar ketahanan energi melalui program biodiesel.

Laporan Outlook Sawit Indonesia 2026 turut menyoroti kebijakan energi berbasis sawit. Implementasi mandatori biodiesel B40 dan potensi penguatan menuju B50 diperkirakan akan meningkatkan serapan CPO domestik secara signifikan, sekaligus mengubah struktur pasar sawit nasional.

Penguatan konsumsi domestik tersebut dinilai berdampak pada terbatasnya ruang ekspor. Namun, di sisi lain, kondisi ini berperan dalam menjaga stabilitas harga dan memperkuat ketahanan energi nasional.

Dari sisi harga, IPOSS memperkirakan permintaan domestik yang meningkat akan menjaga harga CPO global tetap berada pada level relatif tinggi sepanjang 2026, meskipun masih dipengaruhi oleh dinamika produksi global dan kebijakan perdagangan negara mitra.

Melalui laporan tersebut, IPOSS merekomendasikan sejumlah langkah strategis, antara lain percepatan peremajaan kebun rakyat guna mendorong produktivitas, penguatan kepastian legalitas serta integrasi tata kelola, hingga penyelarasan kebijakan energi dan perdagangan.

Langkah-langkah tersebut dinilai penting agar penguatan pasar domestik tidak menggerus daya saing ekspor sawit Indonesia di pasar global.

- Advertisement -
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
36 Shares
💬 Memuat kolom komentar Facebook...
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut

Berita Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

holopis