HOLOPIS.COM, JAKARTA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus memperkuat pengembangan teknologi dirgantara dalam negeri. Melalui Pusat Riset Teknologi Penerbangan (PRTP), BRIN melakukan uji terbang empat pesawat tanpa awak (drone) di Lanud Rumpin, Kabupaten Bogor, selama tiga hari berturut-turut.
Uji terbang ini menjadi tahapan krusial untuk menilai performa terbang, kestabilan, serta keandalan sistem dari masing-masing drone sebelum dikembangkan lebih lanjut untuk berbagai kebutuhan nasional, seperti pemetaan wilayah, pengawasan area strategis, hingga pemantauan lingkungan.
Salah satu drone yang paling menyita perhatian adalah LSU-02 VTOL. Pesawat tanpa awak ini memiliki kemampuan lepas landas dan mendarat secara vertikal (Vertical Take-Off and Landing) sehingga tidak memerlukan landasan pacu yang panjang. Dalam pengujian, LSU-02 VTOL terbang pada ketinggian sekitar 300 kaki, dengan kecepatan 53 knot selama kurang lebih delapan menit.
“Hasil uji terbang menunjukkan performa dan sistem VTOL berfungsi sesuai harapan. Pesawat ini memang dirancang untuk mendukung misi pengawasan wilayah dan pemetaan area,” ujar Peneliti Ahli Muda PRTP BRIN, Danartomo Kusumoaji, dikutip dari laman resmi BRIN, Minggu (28/12/2025).
Selain LSU-02 VTOL, BRIN juga menguji drone Alap-alap yang difokuskan pada pengembangan dan optimalisasi sistem autopilot. Drone ini berhasil terbang stabil di ketinggian 800 kaki dengan kecepatan 50 knot selama 30 menit, dan sistem autopilot dinyatakan bekerja dengan baik.
Pengujian lainnya dilakukan pada drone Kresna, yang difokuskan untuk mengevaluasi sistem telemetri, yakni kemampuan mengirimkan data penerbangan secara real time ke stasiun kendali darat. Kresna terbang selama 10 menit pada ketinggian 300 kaki dengan kecepatan sekitar 50 knot.
Sementara itu, drone Skywalker diuji untuk mengenali karakteristik aerodinamika, termasuk kestabilan dan respons manuver di udara. Data yang dikumpulkan akan menjadi dasar penyempurnaan desain dan peningkatan performa ke depan.
Danartomo menjelaskan bahwa tidak semua drone merupakan desain baru dari nol.
“LSU-02 VTOL dan Alap-alap sepenuhnya dikembangkan oleh periset BRIN, mulai dari desain hingga teknologi Flight Control Computer (FCC). Sedangkan Skywalker dan Kresna menggunakan desain pesawat yang sudah ada,” jelasnya.
Menurutnya, rangkaian uji terbang ini merupakan langkah penting dalam membangun ekosistem drone nasional yang andal.
“Lewat uji terbang ini, kami bisa mengevaluasi performa pesawat sekaligus memastikan seluruh sistem bekerja secara aman dan stabil,” pungkas Danartomo.
Ke depan, teknologi drone hasil riset BRIN diharapkan mampu menjadi tulang punggung berbagai kebutuhan strategis Indonesia.


