HOLOPIS.COM, JAKARTA – Seiring berakhirnya tahun 2025, raksasa teknologi Asia Tenggara, Grab, secara resmi merilis laporan komprehensif bertajuk “25 Hits of 2025”.
Laporan ini tidak sekadar merangkum angka transaksi, melainkan memotret transformasi radikal perilaku konsumen Indonesia yang kini semakin “sadar bumi”, gemar berbagi, dan menunjukkan pertumbuhan ekonomi digital yang mulai bergeser ke wilayah Timur Indonesia.
Salah satu temuan paling menarik adalah lonjakan adopsi layanan di luar Pulau Jawa. Jayapura mencatatkan diri sebagai kota dengan pertumbuhan pengguna GrabFood tertinggi secara nasional, yakni mencapai 53%. Angka ini melampaui pertumbuhan di kota-kota besar lainnya, menandakan bahwa demokratisasi akses kuliner digital telah mencapai titik puncaknya di ujung timur nusantara.
Meskipun teknologi semakin canggih, selera masyarakat Indonesia tetap berakar pada tradisi. Udang Keju secara mengejutkan memuncaki daftar menu paling banyak dipesan di GrabFood, mengungguli makanan pokok seperti mi Jawa dan nasi goreng. Di sisi lain, tren kopi susu tetap tidak tergoyahkan sebagai primadona kategori minuman.
Namun, pergeseran signifikan terlihat pada layanan GrabMart. Kategori kesehatan dan perawatan diri (self-care) menjadi primadona baru. Hal ini selaras dengan data yang menunjukkan bahwa solo shopper (pembeli individu) menjadi segmen yang lebih progresif.
Dengan pertumbuhan nilai transaksi (GMV) sebesar 4,65%, Kategori kesehatan dan perawatan diri melampaui segmen rumah tangga. Fenomena ini mengindikasikan bahwa masyarakat urban kini lebih memprioritaskan kecepatan dan efisiensi untuk kebutuhan personal mereka.
Tahun 2025 menjadi titik balik bagi gerakan ramah lingkungan di ekosistem digital. Laporan Grab mencatat bahwa sebanyak 38.000 mitra usaha telah tergabung dalam Grab Green Programme. ‘
Hal yang lebih mengesankan, kesadaran ini tumbuh secara organik dari sisi konsumen, di mana sebanyak 77% konsumen menyatakan kesediaan untuk membayar lebih demi produk yang berlabel go green.
Selain itu, separuh dari total konsumen kini secara aktif memilih penggunaan kemasan berkelanjutan, sementara 46% lainnya mulai konsisten menolak penggunaan alat makan sekali pakai demi kelestarian lingkungan.
Setelah masa transisi panjang menuju digitalisasi penuh, interaksi fisik kembali menguat. Penggunaan fitur Group Order melonjak tajam hingga 191%, merefleksikan kembali budaya makan bersama di kantor maupun kampus.
Tren makan di tempat (Dine Out) juga tumbuh sebesar 151%, didorong oleh keinginan konsumen untuk mendapatkan pengalaman otentik di restoran dengan harga yang kompetitif.
Sisi humanis juga tetap terjaga melalui fitur “Traktir Driver”. Nasi ayam bakar menjadi menu yang paling banyak dikirimkan pengguna sebagai bentuk apresiasi kepada mitra pengemudi.
Melinda Savitri, Country Marketing & Communications Head Grab Indonesia, menegaskan bahwa kehadiran Grab di lebih dari 300 kota/kabupaten telah menjadi mesin penggerak bagi UMKM lokal.
“Pertumbuhan ini bukan sekadar angka, melainkan bukti dampak langsung yang dirasakan oleh pelaku usaha kuliner di berbagai daerah melalui teknologi adaptif kami,” ungkapnya.
Laporan “25 Hits of 2025” ini menutup tahun dengan pesan kuat bahwa masa depan ekonomi digital Indonesia terletak pada keseimbangan antara inovasi teknologi, keberlanjutan lingkungan, dan nilai-nilai sosial yang inklusif.

