HOLOPIS.COM, JAKARTA – Jawa dikenal sebagai salah satu pulau di Indonesia yang kaya akan adat istiadat serta tradisi yang terus dijaga dan diwariskan secara turun temurun hingga saat ini. Selain budaya seperti tradisi pernikahan, kematian, dan yang lainnya, dalam budaya Jawa juga dikenal istilah wewaler, yaitu larangan atau nasihat yang diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi.
Larangan ini tidak pernah tertulis, tetapi tetap hidup dalam ingatan masyarakat adat Jawa, karena selalu diajarkan oleh orang tua kepada anak-anak mereka dan terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Banyak wewaler dipercaya memiliki unsur mistis, di mana menurut kepercayaan siapapun yang melanggar larangan tersebut bisa mengalami nasib buruk atau bahkan gangguan dari makhluk gaib.
Meski begitu, dibalik nuansa mistis tersebut, wewaler sering kali menyimpan nilai moral dan sosial yang penting. Beberapa contoh wewaler yang masih dikenal hingga kini antara lain larangan memasak terasi di hutan karena dipercaya dapat menarik makhluk halus.
Tak hanya itu, ada pula larangan bersiul pada malam hari karena dianggap bisa mengundang banaspati (sosok makhluk gaib dalam kepercayaan masyarakat Jawa, yang digambarkan berbentuk seperti bola api raksasa yang bergerak dan memburu manusia).
Selain larangan memasak terasi di hutan bersiul di tengah malam, adapula larangan duduk di atas bantal karena diyakini dapat menyebabkan bisul.
Tak sampai disitu, dalam kepercayaan budaya Jawa ada pula larangan keluar rumah setelah maghrib atau melakukan aktivitas tertentu saat senja hingga malam, terutama di daerah yang dianggap rawan gangguan gaib.
Meskipun terdengar seperti mitos, banyak larangan ini sebenarnya adalah bentuk peringatan tentang bahaya lingkungan, etika, dan sikap berhati-hati terhadap tempat dimana kita tinggal.
Sebagian larangan bahkan pernah dicatat dalam naskah kuno, seperti naskah berjudul “Wewaler” yang berisi pantangan tertentu, misalnya larangan makan pisang yang jatuh.
Namun, karena tradisi ini disampaikan secara lisan, cerita mengenai wewaler sering berkembang menjadi legenda yang dilengkapi kisah mistis, gangguan makhluk halus, atau hukuman gaib dari entitas tak kasat mata.
Meski begitu, idak ada bukti kuat tentang wujud fisik dari makhluk-makhluk yang disebut dalam wewaler, sehingga banyak kisahnya dianggap lebih sebagai peringatan agar selalu berhati-hati dalam bertindak, daripada ancaman makhluk gaib atau mistis.
Di zaman sekarang, sebagian orang mungkin tidak lagi percaya pada sisi mistis dari wewaler. Namun, terlepas dari ceritanya yang terdengar tidak masuk di logika, masih banyak yang tetap menghormati nilai moralnya sebagai bagian dari tradisi dan identitas budaya Jawa.
Terlepas dari pertanyaan-pertanyaan mengenai apakah Wewaler merupakan mitos atau sebatas tradisi budaya Jawa, lebih daripada itu wewaler berfungsi sebagai pengingat agar seseorang bersikap hati-hati, menghormati norma sosial, dan menjaga perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, wewaler dapat dipahami sebagai bentuk legenda moral yang menggabungkan ajaran adat istiadat, perilaku menghormati dan menghargai, serta kepercayaan terhadap cerita mistis.


