HOLOPIS.COM, JAKARTA – Latief (29), seorang penyandang tunanetra, kini merasakan perubahan besar dalam hidupnya setelah menerima kacamata pintar berbasis Artificial Intelligence (AI) buatan Jerman yang disalurkan melalui program Presiden Prabowo Subianto.
Perangkat bernama “Mata Kita” ini membuat aktivitas sehari-harinya jauh lebih mudah dan mandiri.
Sebelumnya, Latief selalu mengandalkan tulisan braille untuk membaca berbagai informasi. Namun sejak memakai kacamata pintar ini, ia dapat memindai teks apa pun hanya dalam hitungan detik, tanpa harus meraba tulisan.
“Alat ini bisa mendeteksi orang beserta jumlahnya, misalnya ada tiga atau dua orang di depan kita. Saat kita tap atau arahkan alat ini ke objek di hadapan kita, langsung memberikan informasi. Termasuk bisa menginformasikan identitas orang itu bila sudah direkam sebelumnya,” jelas Latief di Yayasan Mitra Netra, Cilandak, Jakarta Selatan yang dikutip Holopis.com, Rabu (10/12/2025).
Kacamata pintar ini mampu membaca teks pada menu restoran, memindai nilai mata uang, hingga mengidentifikasi produk di minimarket.
Bahkan dokumen penting seperti ijazah, KTP, atau kartu keluarga dapat terbaca jelas melalui perangkat tersebut.
“Bisa mendeteksi teks sederhana seperti judul buku, lalu dokumen-dokumen yang kita miliki,” ujarnya.
“Kacamata ini sudah bisa mendeteksi mata uang mulai dari pecahan dua ribu, lima ribu, sepuluh ribu, bahkan lima puluh ribu,” sambungnya.
Program penyaluran alat ini dilakukan oleh Yayasan Gerakan Solidaritas Nasional (GSN) ke berbagai komunitas penyandang disabilitas, termasuk Himpunan Disabilitas Muhammadiyah dan Yayasan Mitra Netra. Perangkat diberikan secara gratis, lengkap dengan pelatihan penggunaan.
Latief mengungkapkan rasa terima kasih yang mendalam atas perhatian pemerintah terhadap para penyandang tunanetra.
“Saya mengucapkan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya atas niat tulus Bapak Prabowo Subianto yang telah membantu kami mengatasi tantangan utama dalam mengakses teks melalui distribusi alat Mata Kita ini,” tutupnya.
Ketua Yayasan GSN, Teguh Arief, mengatakan perangkat ini diharapkan menjadi “navigasi kehidupan” bagi penyandang tunanetra.
Dengan teknologi AI, pengguna dapat mengetahui siapa yang berada di depannya, termasuk jenis kelamin, serta mengenali lingkungan sekitar.
Teguh menambahkan bahwa kacamata pintar ini masih dalam tahap uji coba dan sementara difokuskan untuk mendukung aktivitas belajar dan bekerja. Ke depan, fitur navigasi publik juga akan disempurnakan.
“Kalau di depan ada sesuatu, seperti pintu, mereka tidak akan menabrak,” ujarnya.

