HOLOPIS.COM, JAKARTA – Beberapa video viral di media sosial menggambarkan kondisi mencekam di Aceh Tamiang pascabanjir bandang.
Meski rekaman tersebut tidak memperlihatkan mayat, narator di dalam video menyebut bahwa masih ada korban yang diduga terjebak di dalam bangkai-bangkai mobil yang berserakan usai terseret arus.
Dalam sebuah video yang diunggah oleh akun TikTok @syblaamrta terlihat situasi gelap gulita tanpa listrik, jalanan rusak, serta kendaraan ringsek yang tertumpuk di berbagai titik. Ia juga mengatakan bahwa sepanjang jalan Aceh Tamiang tersebut tercium bau tak sedap yang diduga berasal dari mayat-mayat korban yang belum berhasil dievakuasi.
“Baru tau ternyata yang bau-bau di jalan waktu perjalanan ke Aceh Tamiang ternyata di dalam mobil banyak mayat,” tulis akun tersebut di dalam badan video seperti dikutip oleh Holopis.com, Senin (8/12).
Suasana hening namun mengerikan digambarkan warga sebagai seperti “kota zombie”, terutama karena bau bangkai yang tercium dari berbagai arah dan lingkungan yang hancur total.
Video lainnya diunggah oleh akun TikTok @cut_melisa3 yang menggambarkan banyaknya bangkai mobil dengan posisi di sembarang tempat seperti di Pom Bensin yang dikatakan masih berisikan mayat korban yang belum berhasil dievakuasi.
“Hari ke 9 di dalam mobil masih ada mayat belum dievakuasi di daerah Kuala Simpang dan Aceh Tamiang,” tulisnya sembari meminta pertolongan evakuasi secepatnya dari pihak terkait.
Warga juga menyampaikan bahwa akses menuju sejumlah lokasi masih tertutup lumpur tebal dan reruntuhan, membuat proses evakuasi dan pencarian korban terhambat. Putusnya jaringan komunikasi dan ketiadaan air bersih menambah kesulitan masyarakat untuk bertahan.
Sementara itu, pemerintah pusat menyatakan tengah mempercepat respons bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Koordinasi lintas kementerian dan lembaga dilakukan untuk memaksimalkan distribusi bantuan, pemulihan akses, serta proses pencarian di wilayah terdampak.
Namun kondisi lapangan menunjukkan pekerjaan besar masih menanti. Kerusakan luas, keterbatasan alat, dan akses yang belum pulih membuat Aceh Tamiang tetap berada dalam situasi yang sangat berat untuk ditangani secara cepat.

