HOLOPIS.COM, JAKARTA – Setiap tahun, jutaan ton limbah tekstil dari “kuburan” lemari kantor berakhir di TPA, senyap menjadi penyumbang polusi terbesar kedua dunia. Namun, Kementerian Ekonomi Kreatif (Ekraf) kini melancarkan misi penyelamatan heroik yakni Program SIKLUS, sebuah inisiatif fesyen sirkular yang memberikan nyawa kedua bahkan lebih baik bagi seragam-seragam mati.
Bukan sekadar daur ulang biasa, SIKLUS adalah kolaborasi epik antara Kementerian Ekraf dengan startup daur ulang tekstil, Pable, yang menciptakan rantai pasok lokal baru.
Intinya yaitu seragam kantor lama diubah menjadi benang premium, ditenun menjadi kain tenun oleh pengrajin di Pasuruan, Jawa Timur, dan kemudian didesain ulang oleh mahasiswa di Surabaya menjadi seragam baru yang ramah lingkungan.
“Ini adalah opportunity yang harus kita lihat. Bukan hanya estetika, tapi juga fungsionalitas dan tanggung jawab. Bayangkan, 10 persen limbah di sekitar kita berasal dari fast fashion. Melalui SIKLUS, kita memilih untuk hidup bijak, sebagai manusia yang bernilai,” ujar Wamen Ekraf, Irene Umar, dalam peluncuran di Galeri Oesman Effendi.
Jalur hidup baru seragam dimulai dari dropbox yang kini disiapkan di Gedung Film Pesona Indonesia. Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain, Yuke Sri Rahayu, mengajak seluruh staf Ekraf untuk merelakan seragam tak terpakai mereka.
“Kami menyulapnya kembali menjadi benang. Dari benang, para penenun di Pasuruan akan membuat kain tenun yang indah. Kemudian, mahasiswa dari universitas di Surabaya akan mendesainnya menjadi seragam baru. Ini adalah lingkaran kehidupan fesyen yang sempurna,” jelas Deputi Yuke, menekankan peran komunitas lokal dalam proses transformasi ini.
Data dari Pable, sang ahli daur ulang, memberikan keajaiban yang dramatis. Setiap kilogram seragam bekas yang berhasil mereka daur ulang berpotensi mengurangi 315 kg CO2 yang seharusnya dihasilkan dari pembuatan kain baru.
Selain itu, upaya ini juga turut menyelamatkan 14 pohon dari penebangan, dan hanya membutuhkan 40 mililiter air. Sebuah angka yang sangat kecil jika dibandingkan dengan 2.700 liter air yang dibutuhkan untuk memproses katun baru.
Aryenda Atma, founder Pable, menambahkan konteks global yang mengejutkan bahwa 92 juta ton limbah tekstil dihasilkan global, namun hanya 1 persen yang kembali menjadi material. SIKLUS bukan sekadar program ganti seragam, tetapi sebuah manifesto bahwa ekonomi kreatif Indonesia siap memimpin pertempuran melawan polusi tekstil, satu seragam lama pada satu waktu.

