HOLOPIS.COM, JAKARTA – Juru Bicara Greenpeace, Iqbal Damanik menyebut bahwa bencana alam hebat di Sumatra sebenarnya bersumber dari dua masalah utama. Pertama adalah soal anomali cuaca, di mana terjadinya cuaca ekstrem tersebut menjadi penyumbang besar dari terjadinya bencana banjir dan tanah longsir.
“Cuaca ekstrem itu memang harus kita iyakan,” kata Iqbal dalam podcast bersama Abraham Samad seperti dikutip Holopis.com, Jumat (5/12/2025).
Namun demikian, ada sumber yang tidak kalah besar dari faktor cuaca adalah kesalahan manusia. Di mana banyak kebijakan pemerintah yang cenderung mengabaikan keselamatan dan kelangsungan ekologis.
“Harus kita ketahui bahwa cuaca ekstrem ini terjadi adalah akibat kebijakan pemerintah yang gagal, ada kegagalan pemerintah,” ujarnya.
Kegagalan yang dimaksud adalah banyaknya izin konsesi dan pertambangan yang mengabaikan dua faktor, yakni daya dukung dan daya tampung lingkungan. Proses eksplorasi yang berujung pada eksploitasi tersebut menjadi salah satu bentuk nyata tentang kegagalan pemangku kebijakan di Indonesia.
“Kebijakan pemberian izin yang tidak mempertimbangkan situasi lingkungan hidup, situasi ke kehutanan, daya dukung dan dari tampung lingkungan,” jelasnya.
Ditambah lagi soal keengganan mempertimbangkan aspek ilmiah dalam penanganan lingkungan. Iqbal Damanik menuding pemerintah selama ini justru cenderung mengutamakan faktor ekonomi politik, sehingga kelangsungan hidup masyarakat dan lingkungan cenderung terpinggirkan.
Bahkan faktor kondisi ekologis yang rentan terjadi bencana pun ikut menyumbang faktor mengapa bencana di Sumatera seperti Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat terjadi. Dengan curah hujan yang tinggi, siklon, hingga daya tampung lingkungan yang tidak kompatible, akibatnya tanah longsir, banjir bandang pun tak terelakkan lagi.
“Kalau kita pikir-pikir, sebenarnya kenapa bisa ada izin di wilayah ini gitu ya, dan tidak mempertimbangkan orang-orang yang tinggal di sekitar izin,” tukasnya.


