HOLOPIS.COM, JAKARTA – Hujan monsun dan siklon tropis yang menghantam Asia Selatan dan Asia Tenggara dalam beberapa pekan terakhir memicu banjir besar, memaksa ribuan warga mengungsi, merusak infrastruktur, serta menimbulkan gangguan ekonomi signifikan. Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorological Organization/WMO) menyampaikan bahwa dampaknya telah menelan ratusan korban jiwa di sejumlah negara.
Clare Nullis, pejabat WMO, menjelaskan dalam taklimat pers Perserikatan Bangsa-Bangsa di Jenewa bahwa Indonesia, Filipina, Thailand, Vietnam, dan Sri Lanka merupakan negara yang mengalami kerusakan paling parah akibat hujan lebat yang diperkuat oleh monsun dan badai tropis.
“Banjir masih menjadi salah satu ancaman utama di kawasan tersebut, dan kenaikan suhu semakin meningkatkan kemungkinan terjadinya hujan lebat yang lebih intens,” kata Nullis, dikutip Holopis.com, Rabu (3/12).
Di Pulau Sumatra, otoritas nasional mencatat lebih dari 600 korban jiwa dengan ratusan orang dinyatakan hilang. Lebih dari 1,5 juta warga terdampak akibat banjir besar dan longsor yang meluas. Situasi serupa juga terjadi di sejumlah negara tetangga.
Vietnam mengalami hujan ekstrem selama berminggu-minggu, memicu kerusakan besar pada objek wisata dan lokasi bersejarah. Beberapa wilayah dilaporkan menerima curah hujan lebih dari 1.000 milimeter.
Stasiun meteorologi di Hue City mencatat 1.739,6 mm dalam waktu 24 jam pada akhir Oktober, yang disebut sebagai rekor nasional baru dan kemungkinan menjadi curah hujan 24 jam tertinggi kedua yang pernah tercatat di Asia dan Belahan Bumi Utara. Vietnam melaporkan 98 korban tewas dan 10 warga hilang.
Filipina juga masih dalam fase pemulihan dari badai tropis sebelumnya ketika badai baru kembali menerjang. Sementara itu di Sri Lanka, hampir satu juta orang terdampak dengan lebih dari 400 warga tewas atau hilang setelah Siklon Ditwah menyebabkan banjir dan longsor paling parah dalam sejarah negara tersebut.
Pemerintah Sri Lanka menetapkan bencana nasional dan menyebut situasi itu sebagai yang terburuk dalam beberapa tahun terakhir.
Ricardo Pires dari UNICEF menambahkan bahwa lebih dari 275.000 anak terdampak Siklon Ditwah. Ia menilai jumlah tersebut kemungkinan lebih besar mengingat banyak wilayah yang masih sulit dijangkau.
WMO menegaskan bahwa bencana ini menunjukkan perlunya peningkatan sistem prediksi cuaca tingkat regional, penguatan kapasitas penanggulangan, serta perluasan berbagi data meteorologi. Nullis menekankan bahwa kawasan Asia Pasifik menghadapi aktivitas topan paling intens di dunia, sehingga tidak ada negara atau lembaga yang mampu menangani siklon tropis dan dampak perubahan iklim secara sendirian.


💬 Diskusi Pembaca
0 KomentarMasuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan masukan!