Profil Doni Monardo, Sosok Pemimpin BNPB yang Dirindukan
HOLOPIS.COM, JAKARTA - Figur mantan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI (Purn) Doni Monardo tengah jadi perbincangan. Suara publik melalui netizen menyampaikan kerinduan terhadap sosok almarhum Doni.
Suara netizen itu karena disorotnya Kepala BNPB saat ini, Suharyanto. Omongan Suharyanto yang menyebut bencana banjir bandang dan longsor di Sumatera hanya terlihat mencekam di media sosial jadi pemicunya.
Suharyanto panen kritikan dari berbagai pihak. Pernyataannya dianggap keliru dan kurang empati terhadap korban bencana Sumatera. Meskipun, ia akhirnya menyampaikan permintaan maaf atas ucapannya yang sudah memantik kegaduhan. Tapi, kritikan ke Suharyanto masih terus muncul.
Netizen yang sudah kesal terhadap Suharyanto pun membandingkan dengan mendiang Doni Monardo. Sosok Doni pernah menjabat Kepala BNPB dengan masa jabatan Januari 2019 sampai Mei 2021.
Mantan Danjen Kopassus itu punya rekam jejak kinerja bagus saat menjabat Kepala BNPB. Salah satunya penanganan bencana gempa magnitudo 6,2 Sulawesi Barat pada Januari 2021.
Lalu, ada penanganan wabah Covid-19 yang pada 2020 menjangkiti berbagai daerah Indonesia. Selain itu, di awal 2021 ada musibah jatuhnya Sriwijaya Air SJ 182 di perairan Kepulauan Seribu, Jakarta hingga longsor Sumedang, Jawa Barat.
Pun, di tahun 2020, BNPB era Doni Monardo juga menangani sederet bencana hidrometeorologi di berbagai daerah. Dari data BNPB, ada 1.065 bencana sepanjang 2020.
Kemudian, ada juga bencana geologi dan vulkanologi. Selain itu, ada kebakaran hutan dan lahan atau karhutla yang juga masih jadi masalah klasik di Tanah Air.
Terkait penanganan karhutla, Doni Monardo pernah menyampaikan bahwa sepanjang 2020 sudah mengalami penurunan hingga 81 persen.
Purnawirawan jenderal TNI bintang tiga itu menyertakan data BNPB per November 2020, bahwa luas cakupan wilayah karhutla pada tahun itu mendekati 300 ribu hektar. Angka itu menurun hingga 81 persen jika dibandingkan dengan 2019 yakni 1,6 juta hektar luas wilayah yang terbakar.
Doni mengapresiasi beberapa wilayah yang sudah baik dalam koordinasi dan penanganan karhutla seperti Sumatera Selatan, Jambi, Bengkulu, Riau, Kalimantan Barat, hingga Kalimantan Selatan. Dia menyebut daerah-daerah itu mampu meminimalisir terjadinya potensi bencana karhutla.
"Menjadi capaian yang patut kita apresiasi khusususnya kepada daerah yang selama ini mengalami karhutla dengan intensitas yang cukup tinggi," kata Doni dalam webinar: "Kaleidoskop Kebencanaan 2020 dan Prediksi Fenomena Serta Potensi Bencana Tahun 2021" secara daring di Jakarta, Selasa (28/12/2020).
Pengamat komunikasi publik Jamiluddin Ritonga menilai figur mendiang Doni memiliki kelebihan selama menjabat pucuk pimpinan BNPB. Menurut dia, Doni bisa menyampaikan pernyataan secara bijak sesuai data dan fakta.
Menurut Jamiluddin, almarhum Doni dalam berkomunikasi lebih tenang dan menjaga akurasi fakta. Dia mengenang Doni bisa menyampaikan fakta demi fakta disampaikan secara lengkap dan runut.
Bagi dia, gaya komunikasi Doni yang lebih terukur itu menjadikannya mudah dipahami publik. Dia mengatakan kejelasan informasi yang disampaikan Doni selama jabat Kepala BNPB memungkinkan publik dapat menerimanya dengan mudah.
"Saat terjadi krisis, Doni Monardo dalam berkomunikasi mengedepankan empati. Hal ini membuat beban publik yang berat terasa berkurang," kata Jamiluddin kepada Holopis.com, Selasa, (2/12/2025).
Adapun mendiang Doni sebelum jabat Kepala BNPB, sudah banyak pengalaman dalam karir militer. Pria kelahiran Cimahi, 10 Mei 1963 itu pernah dipercaya sebagai Komandan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) ke-20 periode Juni 2012-September 2014.
Selain itu, dia juga pernah menjabat Panglima Komando Daerah Militer XVI/Pattimura periode Juli 2015-Oktober 2017. Kemudian, Panglima Komando Daerah Militer III/Siliwangi dengan masa jabatan Oktober 2017-19 Maret 2018.
Selepas dari Kepala BNPB, Doni juga pernah dipercaya sebagai Ketua Umum Persatuan Purnawirawan TNI AD periode Februari 2022-Desember 2023.