HOLOPIS.COM, JAKARTA – Menabung selama ini dianggap sebagai langkah dasar dalam perencanaan keuangan. Namun, investor kawakan Lo Kheng Hong justru memberikan pandangan berbeda.
Ia menegaskan, bahwa menyimpan uang di bank justru membuat orang miskin. Pasalnya, bunga tabungan di bank tidak mampu mengimbangi laju inflasi, sehingga nilai uang mereka terus tergerus.
“Menyimpan uang di bank sebetulnya membuat kita miskin secara pelan-pelan karena nilai uang kita semakin hari semakin turun,” kata Lo Kheng Hong, dikutip Holopis.com, Minggu (30/11/2025).
Lo Kheng Hong yang dianggap Warren Buffett Indonesia itu mengaku tidak tertarik membeli obligasi karena imbal hasilnya dinilai kurang menarik.
Hal yang sama juga berlaku untuk emas, yang menurutnya tidak memberikan keuntungan jangka panjang.
Pria yang dikenal tajam dalam menganalisis laporan keuangan itu hanya fokus pada investasi saham, strategi yang telah membawanya menjadi salah satu investor paling sukses di Indonesia, dengan kekayaan yang mencapai ratusan miliar rupiah.
Lo mengisahkan salah satu momen penting yang mengubah hidupnya sebagai investor, yaknj pada saat dirinya membeli saham PT United Tractors Tbk (UNTR) pada 1998.
Saat itu, perusahaan membukukan laba bersih minus Rp1 triliun, namun memiliki pendapatan Rp2 triliun – Rp4 triliun dan laba operasional sekitar Rp1 triliun.
Menurutnya, kondisi rugi tersebut terjadi akibat fluktuasi kurs, bukan karena kinerja bisnis yang buruk. Inilah yang membuat Lo melihat peluang besar.
Keputusannya terbukti tepat. Saham UNTR menjadi tonggak awal kesuksesannya, dan cerita serupa ia ulang di sejumlah saham lain yang memberikan keuntungan signifikan.
Dari sejumlah kisah tersebut, alasan utama Lo memilih pasar saham sebagai senjata untuk mengeruk kekayaan adalah potensi keuntungan jangka panjang yang menurutnya terbaik di dunia.
“Bursa saham Indonesia menawarkan imbal hasil tertinggi di antara bursa saham utama di dunia bagi investor jangka panjang. Sudah terbukti! Saya bersyukur saya ada di dalamnya,” ujarnya.
Meski potensi besar terbuka lebar, Lo menilai sebagian besar masyarakat Indonesia masih enggan berinvestasi di saham.
“99 persen masyarakat Indonesia tidak percaya kalau investasi saham adalah pilihan terbaik,” kata Lo.
Mayoritas masyarakat Indonesia dikatakan Lo, lebih memilih menaruh uang di bank atau membeli properti, meski kenaikannya tidak selalu signifikan.
Padahal Lo sendiri membuktikan bahwa disiplin membaca laporan keuangan dan memilih perusahaan yang undervalued dapat menghasilkan kekayaan jangka panjang.


