Kementerian ESDM Ungkap Penyebab Utama Bencana Banjir Bandang Sumatra

14 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkap penyebab bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera dalam beberapa hari terakhir. ESDM juga menyampaikan duka cita yang mendalam atas bencana tersebut.

“Kami di Kementerian ESDM menyampaikan keprihatinan yang mendalam atas bencana alam yang terjadi di beberapa wilayah di Sumatera,” kata Plt. Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria dikutip Holopis.com dari siaran pers, Minggu (30/11/2025).

- Advertisement -Hosting Terbaik

Lana menyampaikan, bahwa prioritas utama pemerintah saat ini adalah penanganan warga terdampak dan pemulihan wilayah.

Dia menjelaskan, bahwa bencana di lima kabupaten, yaitu Humbang Hasudutan, Agam, Mandailing Natal, Gayo Lues, dan Aceh Tenggara dipicu oleh tiga faktor utama, dengan curah hujan tinggi hingga ekstrem sebagai faktor dominan.

- Advertisement -

Kondisi geomorfologi yang curam hingga sangat curam serta litologi yang lapuk dan mudah tererosi, juga turut memperparah kerentanan wilayah tersebut.

Untuk itu, Lana memandang peningkatan kapasitas masyarakat desa rawan bencana melalui identifikasi tanda awal longsor, jalur evakuasi, serta revitalisasi vegetasi lereng menjadi fondasi pencegahan di tingkat tapak.

“Pengendalian tata guna lahan pada lereng curam termasuk pembatasan pembukaan lahan baru dan perbaikan drainase permukaan merupakan langkah struktural yang sangat menentukan dalam menurunkan risiko pada kawasan permukiman,” tambahnya.

Terkait longsor yang terjadi di dua kabupaten di Sumatera Utara, Lana menambahkan bahwa lokasi bencana umumnya berada di kawasan perbukitan curam hingga sangat curam yang mengelilingi Kota Sibolga, khususnya di sisi timur-selatan.

“Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah, secara umum Kota Sibolga berada pada zona potensi gerakan tanah menengah-tinggi, yang berarti wilayah ini dapat dan atau sering mengalami kejadian gerakan tanah,” ujarnya.

Pandangan serupa juga disampaikan Kepala Badan Meteorologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Teuku Faisal Fathani.

Menurut Teuku Faisal, hasil analisis menunjukkan perkembangan signifikan Bibit Siklon Tropis 95B yang teridentifikasi sejak 21 November 2025 di perairan timur Aceh, Selat Malaka.

Analisis tersebut menunjukkan bahwa 95B meningkatkan intensitas dan memicu potensi cuaca ekstrem berupa hujan lebat hingga ekstrem serta angin kencang di wilayah Aceh, Sumatra Utara, Sumatera Barat, Riau dan sekitarnya.

Untuk itu, ia mengimbau masyarakat di wilayah terdampak diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem akibat dampak dari Bibit Siklon 95B.

“Saat ini BMKG terus memantau intensitas 95B dan meminta stakeholder terkait untuk memastikan langkah mitigasi demi meminimalisir hal yang tidak diinginkan,” kata Teuku Faisal.

Lebih lanjut, BMKG saat ini mendeteksi keberadaan Meso Siklon Konvektif Kompleks (Mesoscale Convective Complex/MCC) di Samudra Hindia barat Sumatra, yang berpotensi memicu bencana susulan.

MCC merupakan sistem badai petir berskala besar dan terorganisasi yang dapat menimbulkan hujan dengan intensitas sangat tinggi dalam durasi panjang, angin kencang, hingga hujan es.

Hal tersebut perlu diwaspadai, khususnya untuk wilayah Mandailing Natal, Sumatera Utara, dan mayoritas wilayah Sumatera Barat lainnya.

- Advertisement -
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
14 Shares
💬 Memuat kolom komentar Facebook...
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut

Berita Terkait

Berita Terkait

Berita Terbaru

holopis