HOLOPIS.COM, JAKARTA – Zootopia 2 kembali hadir sebagai film animasi keluarga yang rapi, lucu secukupnya, dan terasa sangat “aman”. Film ini memang bukan hasil buatan AI, tetapi nuansa formulaiknya membuatnya terasa seperti produk animasi yang dirancang untuk memuaskan semua kalangan tanpa benar-benar mengambil risiko besar.
Sekuel ini membawa penonton kembali ke dunia Zootropolis, kota fantastis tempat berbagai hewan dari ukuran dan jenis apa pun hidup berdampingan.
Di kota inilah kelinci polisi muda penuh semangat, Judy Hopps, kembali bekerja sama dengan partnernya, Nick Wilde, si rubah cerdik yang dulu mantan penipu namun kini menjadi polisi resmi ZPD.
Keduanya mendapatkan kasus baru: sebuah kejahatan yang diduga dilakukan oleh seekor ular salah satu spesies yang masih dipandang sebagai “pendatang yang tidak diinginkan” di Zootropolis.
Ular ini dituduh mencuri jurnal milik keluarga lynx bangsawan, yang disebut-sebut sebagai leluhur pendiri kota. Di dalam jurnal tersebut terdapat catatan penting mengenai asal-usul “weather walls”, teknologi yang memungkinkan berbagai iklim berbeda hidup berdampingan dalam satu kota besar.
Namun, seperti biasa, penyelidikan Hopps dan Wilde tidak berjalan mulus. Kasus sederhana ini perlahan membuka tabir rahasia lama, kebohongan, serta konspirasi besar yang ternyata melibatkan pejabat kelas atas Zootropolis.
Secara visual, film ini tetap memukau, dengan dunia yang penuh warna dan detail yang memanjakan mata. Humor-humor ringan juga tetap hadir, meski sering terasa seperti hasil rumus standar animasi keluarga: lucu, aman, dan tidak terlalu menantang.
Meski begitu, sebagian penonton dewasa mungkin merasa bahwa Zootopia 2 kehilangan “jiwa” yang membuat film pertamanya begitu kuat. Energinya menyenangkan, tetapi terasa seperti dibuat terutama untuk menemani anak-anak selama perjalanan jauh layak ditonton, tetapi tidak meninggalkan dampak emosional mendalam.
Tetap saja, sebagai tontonan keluarga, film ini solid: aman, menghibur, dan mudah dinikmati siapa pun.


