HOLOPIS.COM, JAKARTA – BYD terus memimpin pasar mobil listrik Indonesia, meski seluruh produknya masih diimpor langsung dari China. Sambil menikmati penjualan yang meroket, pembangunan pabrik BYD di Subang, Jawa Barat, juga sudah memasuki fase akhir dan ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal pertama 2026.
Head of Public and Government Relations PT BYD Motor Indonesia, Luther, mengungkapkan bahwa proses pembangunan pabrik kini sudah berada di tahap transisi menuju pengawasan penuh Kementerian Perindustrian. Proses audit dari BKPM juga telah rampung.
“Sekarang sudah masuk tahap terakhir. Harusnya semuanya berjalan lancar dan bisa mulai di kuartal I 2026,” ujar Luther dalam keterangannya yang dikutip Holopis.com, Senin (24/11/2025).
Di sisi penjualan, BYD menunjukkan performa luar biasa. Sepanjang 2025, total 69.146 unit mobil listrik terdistribusi di Indonesia, dan BYD menjadi yang paling dominan dengan 30.670 unit.
Sub-brand premiumnya, Denza, turut mencatatkan angka signifikan sebanyak 6.967 unit.
Sebagai salah satu penerima insentif impor mobil listrik terbesar, BYD telah berkomitmen kuat untuk memproduksi kendaraan secara lokal. Investasi yang digelontorkan mencapai Rp 11,2 triliun dengan kapasitas pabrik 150 ribu unit per tahun.
Luther menegaskan bahwa produksi lokal akan membuat BYD semakin percaya diri dalam menjaga suplai dan stabilitas harga.
“Kalau sudah berbasis manufaktur, semuanya jauh lebih pasti. Supply lebih stabil, produksi lebih terjamin,” jelasnya.
Namun, BYD bukan hanya sedang membangun pabrik—mereka juga punya kewajiban besar.
Sesuai peraturan terbaru Kementerian Investasi, seluruh penerima insentif impor mobil listrik harus mulai memproduksi mobil secara lokal paling lambat 1 Januari 2026.
Selain itu, selama 2026–2027, jumlah mobil yang harus diproduksi minimal harus setara dengan unit yang mereka impor.


