Tolak Mundur, Gus Yahya: Syuriah Tak Punya Wewenang Berhentikan Ketum PBNU
HOLOPIS.COM, SURABAYA - Polemik desakan agar Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya untuk mundur dari posisi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) terus berlanjut. Gus Yahya pun akhirnya merespons desakan mundur itu.
Pernyataan Gus Yahya itu disampaikan usai Rapat Koordinasi Ketua PWNU se-Indonesia di Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (22/11), malam. Gus Yahya menegaskan sikapnya tak akan mundur dari posisi Ketum PBNU.
Menurut dia, rapat harian Syuriah PBNU dalam aturan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) tak memiliki kewenangan untuk memberhentikan Ketum PBNU.
"Saya katakan rapat harian syuriyah menurut konstitusi AD ART tidak berwenang untuk memberhentikan ketua umum," kata Gus Yahya, dikutip pada Minggu (23/11/2025).
Dia menyebut keputusan Syuriah PBNU lewat rapat harian yang mendesaknya untuk mundur juga tak sah. Gus Yahya mengatakan demikian karena Syuriah melalui rapat harian tak akan bisa memberhentikan fungsionaris PBNU. Apalagi, kata dia, jika syuriah mengambil tindakan untuk memecat Ketum PBNU.
"Memberhentikan misalnya salah seorang wakil sekjen itu rapat harian syuriah tidak bisa. Memberhentikan misalnya ketua lembaga rapat harian syuriyah tidak bisa, apalagi ketua umum," tutur eks Anggota Dewan Pertimbangan Presiden itu.
Pun, dia mengaku sejauh ini belum ada kepikiran untuk mundur dari Ketum PBNU. Gus Yahya bilang akan merampungkan masa jabatannya dalam lima tahun memimpin PBNU periode Desember 2021-Desember 2026.
"Di Muktamar ke-34 yang lalu saya mendapatkan mandat lima tahun. Karena akan saya jalani selama 5 tahun. Insya Allah saya sanggup," tutur Gus Yahya.
Gus Yahya juga mengaku sudah menjalin komunikasi dengan jajaran Syuriyah. Dia ingin ada rekonsiliasi internal. "Saya berharap rekonsiliasi internal dapat segera diwujudkan bersama para kiai sepuh dan jajaran struktur terkait," kata Gus Yahya.
Sebelumnya, dari hasil rapat harian Syuriah PBNU mendesak agar Gus Yahya mundur dari posisi Ketum PBNU. Risalah hasil rapat harian Syuriah PBNU itu ditandatangani Rais Aam PBNU Miftachul Akhyar.
Berdasarkan hasil rapat itu, Gus Yahya diminta mundur dari pucuk pimpinan PBNU dalam waktu tiga hari setelah keputusan Syuriah PBNU diumumkan dan diterima.
Ada tiga alasan krusial yang jadi alasan Gus Yahya mesti lengser dari posisi Ketum PBNU. Salah satunya dipicu pelaksanaan Akademi Nahdlatul Ulama pada Agustus 2025 yang mengundang pembicara sekaligus aktivis pro Israel yakni Peter Berkowitz pada Agustus 2025.
Tindakan itu dinilai mencemarkan nama baik perkumpulan NU. Apalagi kehadiran Peter Berkowitz di tengah aksi Israel melakukan genosida terhadap rakyat Palestina di Gaza.