HOLOPIS.COM, JAKARTA – Puluhan prajurit Pasukan Payung dari Satuan Korpasgat TNI Angkatan Udara dan Satuan Kostrad TNI Angkatan Darat melaksanakan penerjunan Kelompok Depan Operasi Linud (KDOL) di kawasan Bandara PT IMIP, Morowali, Sulawesi Tengah, Rabu, kemarin. Penerjukan KDOL ini bagian dari rangkaian Latihan Komando Gabungan (Kogab) TNI Tahun 2025.
Kabidpenum Puspen TNI Kolonel Laut (P) Agung Saptoadi menjelaskan dalam manuver infiltrasi udara itu, pasukan payung terdiri dari 23 penerjun Sat Bravo 90 Korpasgat bergabung dengan unsur Detasemen Matra 2/Naga Pasa serta 10 penerjun dari Brigade Infanteri 3 Divisi 3 Kostrad.
Kolonel Agung menuturkan pasukan payung itu iterjunkan menggunakan pesawat CN-295. Tugas mereka untuk melaksanakan tugas awal memastikan keamanan serta kesiapan Drop Zone (DZ) sebelum unsur pasukan utama memasuki wilayah latihan.

Dia menuturkan penerjunan KDOL dilakukan dengan tingkat presisi tinggi pada area yang telah ditetapkan. Lalu, setibanya di darat, pasukan segera melaksanakan pengamanan awal, penandaan DZ, serta menyiapkan berbagai perangkat taktis untuk mendukung kelancaran operasi lintas udara tahap berikutnya.
“Kehadiran satuan KDOL ini menjadi elemen kunci dalam membuka jalur infiltrasi dan menjamin kesiapan taktis di lapangan,” kata Kolonel Agung, dalam keterangan Pusat Penerangan TNI, pada Kamis, (20/11/2025).
Menurut dia, pelaksanaan latihan ini juga merujuk pada arahan Presiden RI Prabowo Subianto yang minta adanya pengawasan lebih ketat di kawasan tambang terutama di daerah Morowali, Sulawesi Tengah.
Lebih lanjut, dia menuturkan instruksi Presiden Prabowo itu karena maraknya aktivitas tambang ilegal yang berpotensi mengganggu keamanan dan merugikan negara. Dalam instruksinya, Prabowo menugaskan TNI untuk meningkatkan kontrol serta memonitor setiap aktivitas di wilayah tersebut.
Upaya TNI bisa dilakukan dengan mengoptimalkan operasi, latihan, dan pengerahan kekuatan lintas matra.
Kolonel Agung mengatakan rangkaian latihan itu juga untuk memperkuat kemampuan TNI dalam operasi lintas udara modern. “Yang menuntut integrasi erat antara TNI AD, TNI AU, dan berbagai satuan pendukung lainnya,” tuturnya.


