“Dan itu barang kali Muhammadiyah memperlihatkan dari sikap mental pada tokohnya yang senantiasa jujur ketika memimpin, bersahaja dalam bersikap, dan senantiasa memberikan tauladan di tengah-tengah masayarakt, dan tidak pernah gaduh dalam perdebatan-perdebatan yang bersifat khilafiyah, lebih menekankan pada aspek-aspek yang bersifat ekonomi kerakyatan dan kebangsaan,” lanjut Kang Dedi.
Soal digitalisasi, Kang Dedi Mulyadi juga berpandangan bahwa Muhammadiyah sudah menunjukkan itu semua, bagaimana mereka mampu meningkatkan kualitas SDM yang unggul dalam bidang teknologi, hingga mampu mengelola organisasi yang sangat besar dan stabil.
“Yang kedua dari sisi digital, Muhammadiyah sudah sejak lama memperlihatkan diri sebagai organisasi modern yang mengelola kelembagaan secara profesional, sehingga pergantian kepengurusan, pergantian kepemimpinan tidak mempengaruhi manajerial kemuhammadiyahan,” tukasnya.
Oleh sebab itu, kedua hal yang ia sampaikan untuk menggambarkan bagaimana kiprah Muhammadiyah saat ini menjadi sesuatu yang sangat penting bagi semua kalangan, khususnya para pemangku kebijakan. Yakni bagaimana melakukan kontribusi yang terbaik bagi bangsa dan negara, serta mampu melakukan manajerial yang baik dengan sistem yang sustainable.
“Dua hal itu, kemapanan ini sesungguhnya pembejaran kita sebagai politisi dan penyelenggara negara agar menyelenggarakan pembangunan tidak berganting pada siapa yang memimpin, menyelenggarakan pembangunan tidak tergantung pada siapa yang menjadi anggota legislatif, dan siapa yang di eksekutif dan siapa yang di yudikatif,” ucapnya.
“Tetapi kemapanan sistem adalah sebuah keharusan karena kita tidak mesti kepemimpinan ini bergantung pada perorangan,” sambung Kang Dedi.


