HOLOPIS.COM, JEPARA – Dewan Pengurus Cabang (DPC) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kabupaten Jepara menggelar tasyakuran atas penganugerahan pahlawan nasional kepada KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Syaikhana Kholil Bangkalan Madura di Kantornya pada Kamis, 13 November 2025.
Tasyakuran dihadiri oleh jajaran Dewan Syura dan Dewan Tanfidzi DPC PKB Jepara, DPAC PKB se-Jepara, badan otonom dan lembaga partai.
Hadir juga perwakilan PCNU Jepara, PC Muslimat NU Jepara, PC Fatayat NU Jepara, PC IPNU Jepara dan PC IPPNU Jepara.
Ketua DPC PKB Jepara KH Nuruddin Amin menuturkan pengalamannya bersentuhan dengan pemikiran dan perjuangan Gus Dur pada masa orde baru maupun pada saat reformasi 1998 hingga Gus Dur wafat pada 30 Desember 2009.
“Sebagai kader NU dan PKB, kita patut berbangga dengan penganugerahan Gus Dur sebagai pahlawan nasional, menyusul kepahlawanan ayahnya KH. Abdul Wahid Hasyim dan Hadlaratusy-Syaikh Hasyim Asy’ari,” kata Gus Nung, panggilan akrab Nuruddin Amin.

Disampaikan Gus Nung, bahwa perjuangan Gus Dur sebagai Ketua Umum PBNU di tahun 1990-an tidaklah mudah. Mulai Muktamar ke-27 di Situbondo Jawa Timur pada tahun 1984 yang menegaskan khittah NU, lalu Muktamar ke-28 di pondok pesantren Krapyak Yogyakarta tahun 1989 dan puncaknya pada Muktamar ke 29 di pondok pesantren Cipasung Tasikmalaya.
“Tekanan kepada NU dan Gus Dur oleh pemerintah saat itu sangat keras. Gus Dur dipaksa turun, namun berkat dukungan dan doa para kiai, beliau terpilih kembali”, kenang Gus Nung yang saat itu masih aktif di PW Ansor DIY.
Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris PCNU Jepara KH Ahmad Sahil yang hadir dalam tasyakuran tersebut mewakili Ketua PCNU Jepara KH Charis Rohman, menceritakan kenangannya terhadap Gus Dur.
Bagi Gus Sahil, Gus Dur bukan hanya pemimpin NU namun juga tokoh nasional dan tokoh internasional.
“Membaca Gus Dur bagaikan membaca buku yang berjilid-jilid. Memahami pemikiran dan perjuangan Gus Dur itu tergantung sudut pandang kita. Di samping pernah menjadi Ketua Umum PBNU, Gus Dur pernah aktif di berbagai LSM/ NGO, aktif di Forum Demokrasi, Institut Kesenian Jakarta (IKJ), hingga menjadi Presiden ke-4 Republik Indonesia”, ujar Gus Sahil.


